Analis Proyeksi Harga Emas Capai USD 6.000 per Ons pada Akhir 2026

- Senin, 23 Februari 2026 | 09:00 WIB
Analis Proyeksi Harga Emas Capai USD 6.000 per Ons pada Akhir 2026

MURIANETWORK.COM - Prospek investasi emas dan saham emas diperkirakan tetap cerah sepanjang 2026, didorong oleh harga komoditas yang melonjak, ketidakpastian geopolitik global, dan permintaan yang kuat. Analisis terbaru dari NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) mempertahankan rekomendasi overweight untuk emas dengan target harga mencapai USD 6.000 per troy ons pada akhir tahun.

Daya Tarik Emas sebagai Safe Haven

Dalam risetnya yang terbit Jumat (20/2/2026), NHKSI menilai ketegangan geopolitik yang meningkat dan dinamika perdagangan global yang berubah cepat akan terus memperkuat posisi emas sebagai aset pelindung nilai. Sentimen positif ini juga didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, yang berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pergerakan harga.

Permintaan terhadap logam mulia ini diproyeksikan tetap solid, tidak hanya dari investor ritel dan institusi, tetapi juga dari bank sentral berbagai negara yang terus mengakumulasi cadangannya.

Fundamental Global yang Mendukung

Dari sisi pasokan, pertumbuhan produksi tambang emas global cenderung stagnan. Data menunjukkan, pada 2025 produksi hanya naik tipis sekitar 1 persen menjadi 3.671,6 ton, melanjutkan tren perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan permintaan yang kuat dari bank sentral, termasuk negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia, yang secara konsisten menambah cadangan emasnya dalam satu dekade terakhir. Kombinasi faktor pasokan yang ketat dan permintaan yang kokoh ini menjadi penopang fundamental bagi harga.

Tantangan dan Pemulihan Produksi Domestik

Di dalam negeri, industri tambang emas masih menghadapi tantangan. Produksi domestik belum sepenuhnya pulih akibat kendala operasional dan kebijakan. Salah satu contohnya adalah insiden longsor besar yang menghentikan aktivitas tambang Grasberg pada September 2025.

Namun, pemulihan produksi pada 2026 diprediksi akan mulai terlihat seiring rencana pengoperasian kembali Grasberg dan dimulainya proyek Pani milik Merdeka Group. Meski demikian, analis mengingatkan bahwa sejumlah tantangan perizinan dan progres proyek lainnya berpotensi membatasi lonjakan produksi yang lebih signifikan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar