Janji Donatur Menguap, Masjid di Gunungkidul Dibongkar Duluan

- Senin, 05 Januari 2026 | 22:06 WIB
Janji Donatur Menguap, Masjid di Gunungkidul Dibongkar Duluan

Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul, kini cuma tinggal kenangan. Bangunannya sudah rata dengan tanah, dibongkar habis oleh warga sendiri. Ironisnya, hingga detik ini, janji donatur yang jadi alasan pembongkaran itu masih menguap begitu saja.

Padahal, untuk membangun kembali satu-satunya rumah ibadah di pedukuhan itu, dibutuhkan dana tak main-main: sekitar Rp 1,8 miliar.

Ketua Panitia Pembangunan, Budi Antoro, mengaku sempat berencana memulai pengerjaan usai Lebaran.

"Rencananya sih mau bangun yang besar, anggarannya ya sekitar segitu, Rp 1,8 miliar," ujar Budi via telepon, Senin lalu.

Sayangnya, semua itu masih sebatas rencana. Awal ceritanya, seorang donatur yang disebut-sebut berinisial H dari Ngawen berjanji mau membiayai pembangunan masjid baru. Syaratnya cuma satu: bangunan lama harus dirobohkan dulu. Warga pun, dengan penuh harap, menuruti permintaan itu.

Namun begitu masjid itu rubuh, H menghilang bagai ditelan bumi. Komunikasi yang awalnya lancar tiba-tiba terputus sama sekali.

Warga kemudian curiga. Mereka pun melakukan pengecekan. Ternyata, H diduga mencatut nama sebuah yayasan dan sejumlah tokoh. Janjinya ternyata omong kosong.

"Yayasannya memang ada, tapi tidak ada persetujuan resmi untuk donasi ke kami. Begitu kenyataannya," jelas Budi dengan nada kecewa.

Mereka merasa tertipu, ya. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan sudah telanjur. Alih-alih berpangku tangan, warga kini berupaya keras mengumpulkan dana secara swadaya. Sedikit demi sedikit, sumbangan mulai mengalir. Dana yang terkumpul itu langsung mereka gunakan untuk bergerak, memulai dari nol.

"Sekarang kami sudah mulai bikin fondasi talud. Pekerjaan dimulai pelan-pelan saja," tuturnya.

Yang menarik, meski merasa diperdaya, warga memilih jalan lain. Mereka tak berniat melaporkan kasus ini ke polisi. Bagi mereka, ada pengadilan yang lebih tinggi.

"Kami enggak akan menuntut secara hukum. Biarlah Allah sendiri yang urusannya," pungkas Budi, menutup pembicaraan.

Kini, di atas tanah lapang itu, hanya tersisa semangat warga untuk bangkit. Sebuah fondasi kecil mulai digali, menjadi tanda dimulainya sebuah perjuangan baru yang sepenuhnya bergantung pada kekuatan mereka sendiri.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar