Di tingkat masyarakat, kondisi ini melahirkan kesalahpahaman yang massal. Pria mudah sekali dicap tidak peka, tertutup, atau tidak emosional. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah ketiadaan 'bahasa' untuk mengolah perasaan. Mereka tidak diajari cara menamai apa yang dirasakan, apalagi menyampaikannya dengan cara yang sehat. Diam, akhirnya, jadi mekanisme bertahan hidup bukan sebuah pilihan.
Hubungan personal jadi area yang paling merasakan efeknya. Banyak konflik dalam rumah tangga atau percintaan sebenarnya bukan lahir dari kurangnya cinta, tapi dari kegagalan komunikasi emosional. Saat seorang pria tak mampu mengungkapkan isi hatinya, jarak pun menganga. Pasangan merasa diabaikan, sementara si pria merasa tak dimengerti. Lingkaran setan ini berputar terus, tanpa pernah tersentuh akar persoalannya.
Beberapa pengamat sosial melihat ini sebagai persoalan struktural. Literasi emosi, nyatanya, belum jadi bagian yang setara dalam pendidikan anak laki-laki. Kecerdasan emosional sering dianggap penting untuk perempuan, sementara pria didorong fokus pada logika dan ketahanan fisik. Ketimpangan ini akhirnya melahirkan generasi yang tampak kuat menjalankan peran, tapi rapuh di sisi batinnya.
Mengajarkan pria memahami perasaannya sama sekali bukan upaya untuk melemahkan maskulinitas. Justru sebaliknya. Ini justru memperluas makna kekuatan itu sendiri. Pria yang mampu mengenali emosinya cenderung lebih stabil saat mengambil keputusan, lebih sehat dalam menjalin relasi, dan tentu saja, lebih siap menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks.
Selama kita sebagai masyarakat masih memelihara mitos bahwa pria harus selalu kuat tanpa celah untuk rapuh, maka luka emosional akan terus diwariskan. Dari ayah ke anak, dari generasi ke generasi. Pria akan terus bertahan, ya. Tapi jarang yang benar-benar pulih. Dan di situlah inti persoalannya: ini bukan tentang ketidakmampuan pria untuk merasa, melainkan tentang ketidaksediaan kita semua untuk mengajarkan mereka caranya.
Artikel Terkait
JPU Tolak Eksepsi Nadiem, Tuntut Sidang Lanjut di Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 Triliun
Prabowo: Prestasi Atlet di SEA Games 2025 Cermin Kekuatan Bangsa
25 Desa Lenyap Ditelan Bencana, Pemerintah Siapkan Opsi Relokasi
Partai Non-Parlemen Buka Sekretariat Bersama, Siapkan Tuntutan Reformasi Pemilu