“Kita tidak cukup hanya menjadi mukhlis, tetapi juga mukhlas,” paparnya.
Artinya, bekerja sepenuhnya karena Allah, tanpa mengharapkan pengakuan atau pujian apa pun. Di tengah tekanan pekerjaan dan sorotan yang tak pernah reda, keikhlasan itulah, menurutnya, kunci menjaga integritas dan kepercayaan yang diberikan masyarakat.
Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin paham betul kompleksnya tantangan zaman. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial seringkali memunculkan kegelisahan baru. Nah, dalam situasi seperti itulah peran ASN Kemenag diuji.
“Kita tidak bisa asal bilang ‘ini bukan bidang saya’,” tandasnya.
“Masyarakat membutuhkan Kementerian Agama sebagai rujukan moral dan spiritual, kapan pun dan di mana pun.”
Harapannya, momentum peringatan 80 tahun Kemenag ini bisa jadi bahan refleksi bersama. Agar seluruh jajaran tak berpuas diri, dan terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan serta pengabdian kepada umat. Sebuah pekerjaan yang, sekali lagi, jauh dari kata biasa.
Artikel Terkait
Kasus Korupsi CCTV Rp2 Miliar di Makassar Mandek, Kejaksaan Dinilai Lamban
Berkas Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dinyatakan Lengkap, Segara Dilimpahkan ke Pengadilan Militer
Islah Bahrawi Ungkap Mahfud MD sebagai Inspirasi Keberaniannya Kritik Prabowo
Stok Beras Pemerintah Capai Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton