Meski datanya lengkap, BMKG mengaku tidak bisa memastikan seberapa kuat energi dari setiap sambaran itu. Namun begitu, ada kabar baik dari pihak penanggulangan bencana.
Julianto Wibowo, Manager Pusdalops PB DIY, menyatakan bahwa selama periode libur Nataru yang riuh rendah oleh petir tersebut, tidak ada laporan kejadian yang berdampak langsung pada warga. Sepertinya, petir-petir itu lebih memilih menyambar tempat-tempat lain.
“Peristiwa sambaran petir yang berdampak pada warga terakhir terjadi pada 23 Desember sekitar pukul 20.30 WIB silam di Turi, Sleman,” ujar Julianto, Senin (5/1).
“Petir menyambar pohon kelapa dan merusak meteran di 3 rumah warga. Petir merembet ke jaringan listrik sehingga meteran hancur. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka,” jelasnya.
Jadi, meski langit Yogya sempat jadi panggung pertunjukan petir yang sangat aktif, warga bisa bernapas lega. Gangguan terbesar yang tercatat hanya sebatas kerusakan meteran listrik beberapa hari sebelum puncak badai petir itu datang.
Artikel Terkait
Pencarian Syafiq Ridhan di Gunung Slamet: Tongkat dan Doa Seorang Ayah di Hutan Belantara
Royman dan Alarm Demokrasi: Saat Watchdog Dihantam di Morowali
Kiai Didin: Di Balik Kesulitan, Selalu Ada Kemudahan
Mantan Misionaris yang Berburu Cacat Al-Quran, Justru Tersungkur di Ayat Ini