Di sisi lain, Trump punya hubungan erat dengan kelompok Kristen Evangelikal Zionis. Kelompok ini mendukung Israel bukan semata-mata atas dasar politik biasa, tapi juga keyakinan eskatologis yang mendalam.
Kedekatannya dengan Benjamin Netanyahu semakin memperkuat kesan bahwa kebijakan AS di Timur Tengah sudah kehilangan netralitas. Memang, Amerika sejak dulu selalu memanjakan Israel. Ingat saja, Inggris dan AS-lah yang dulu mensponsori berdirinya negara Israel pada 1948.
Dari kacamata akademik, Trump bukan sekadar tokoh kontroversial. Dia adalah gejala dari kemunduran struktural peradaban politik Amerika. Kebijakan luar negeri yang unilateral, pembenaran kekerasan geopolitik, hingga krisis etika pribadinya adalah bukti-bukti yang sulit dibantah.
Seperti dikemukakan seorang pakar, “Bahaya terbesar bagi Amerika bukanlah musuh dari luar, tapi keruntuhan komitmen mereka sendiri terhadap norma-norma yang membesarkannya.”
Amien Rais, pakar politik internasional, menyatakan dengan tegas, “Amerika negara adidaya, membabi buta membela kebengisan Israel. Bahkan di masa Presiden Donald Trump kepentingan Israel dijadikan bagian dari kebijakan nasional Amerika.”
Lebih lanjut dia menambahkan, “Trump dinilai sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah AS oleh sejumlah sejarawan dan jurnalis. Kepemimpinannya dianggap berdarah dingin dan sosiopatik suka berbohong dan tidak peduli pada orang lain.”
Pada akhirnya, invasi Trump ke Venezuela mengingatkan kita pada invasi George W. Bush ke Irak tahun 2003. Ada beberapa kemiripan yang mencolok. Pertama, sama-sama bercorak imperialis. Kedua, sama-sama didukung oleh kelompok Kristen Evangelis garis keras yang pro-Zionis. Ketiga, keduanya memicu instabilitas global yang masif.
Warisan Bush adalah lebih dari 500 ribu rakyat Irak tewas dan Timur Tengah yang makin kacau. Sementara Trump mendukung penuh Netanyahu, yang aksinya telah menewaskan puluhan ribu rakyat Gaza dan memanaskan situasi di Amerika Latin. Entah berapa korban lagi yang akan berjatuhan akibat nafsu imperialis yang satu ini. Wallahu azizun hakim.
Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar, Warga: Sudah Lama Jadi Ancaman
Video Call Berdarah: Ayah Politikus Saksikan Putranya Tewas dari Kantor
Tim RSIB Bangun Hunian Darurat untuk Korban Banjir Aceh Tamiang
Surat Jampidsus yang Dipertanyakan: Saham Jiwasraya Rp377 Miliar Raib dari Sitaan Negara