Kedua tokoh ini sendiri pertama kali bertemu di Australia, di acara khataman Quran yang digelar Gus Nadir. "NU yang mempertemukan kami," kata Mahfud sambil tersenyum. Pertemuan itu kemudian melahirkan diskusi-diskusi menarik, termasuk menjawab keraguan dunia Barat terhadap hakim konstitusi berlatar Islam.
Gus Nadir mengungkap, ada pertanyaan yang kerap muncul: apakah hakim seperti Mahfud MD akan mengubah konstitusi menjadi negara Islam?
Nah, untuk generasi muda, terutama para santri, Gus Nadir punya pesan sederhana. Jangan takut untuk belajar ke luar negeri. Di Australia, dia tetap bisa menjadi muslim yang baik. Komunitasnya bahkan rutin mengadakan khataman Quran dan pengajian tafsir setiap bulan sejak 2005.
Mahfud MD menambahkan pesan terkait media sosial.
Perbincangan yang berlangsung lebih dari satu jam itu akhirnya ditutup. Ada harapan besar yang menggelombang: semakin banyak santri Indonesia yang mendunia, tanpa harus kehilangan identitas dan jati dirinya.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar, Warga: Sudah Lama Jadi Ancaman
Video Call Berdarah: Ayah Politikus Saksikan Putranya Tewas dari Kantor
Tim RSIB Bangun Hunian Darurat untuk Korban Banjir Aceh Tamiang
Surat Jampidsus yang Dipertanyakan: Saham Jiwasraya Rp377 Miliar Raib dari Sitaan Negara