Lalu, bagaimana dengan siswa-siswa di sekolah yang belum siap itu? Ternyata, proses belajar tak boleh berhenti. Menurut Mu'ti, ada 19 sekolah sekitar 1,6 persen yang terpaksa menggelar kegiatan belajar mengajar menggunakan tenda. Bayangkan saja, pelajaran berlangsung di antara terpal dan tiang penyangga, sebuah gambaran ketangguhan yang nyata.
Untuk mengatasi kondisi darurat ini, Kemendikdasmen sudah bergerak cepat. Mereka telah menerbitkan surat edaran khusus yang mengatur metode pembelajaran dan kurikulum bagi sekolah-sekolah terdampak.
“Kami telah menerbitkan surat edaran yang di dalamnya berisi penjelasan mengenai pembelajaran dan asesmen untuk sekolah-sekolah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor, dengan kurikulum yang kami rancang secara khusus pula,” imbuh Mu'ti.
Di akhir pernyataannya, Mu'ti menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar instruksi teknis. Ia menekankan semangat untuk bangkit di tengah kesulitan.
“Yang penting adalah semangat kita untuk bangkit, semangat kita untuk tetap belajar, dan bersemangat meraih masa depan,” tutupnya. Sebuah penutup yang sederhana, tapi sarat makna untuk mereka yang harus belajar di antara puing dan tenda darurat.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun