Lalu, bagaimana dengan siswa-siswa di sekolah yang belum siap itu? Ternyata, proses belajar tak boleh berhenti. Menurut Mu'ti, ada 19 sekolah sekitar 1,6 persen yang terpaksa menggelar kegiatan belajar mengajar menggunakan tenda. Bayangkan saja, pelajaran berlangsung di antara terpal dan tiang penyangga, sebuah gambaran ketangguhan yang nyata.
Untuk mengatasi kondisi darurat ini, Kemendikdasmen sudah bergerak cepat. Mereka telah menerbitkan surat edaran khusus yang mengatur metode pembelajaran dan kurikulum bagi sekolah-sekolah terdampak.
“Kami telah menerbitkan surat edaran yang di dalamnya berisi penjelasan mengenai pembelajaran dan asesmen untuk sekolah-sekolah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor, dengan kurikulum yang kami rancang secara khusus pula,” imbuh Mu'ti.
Di akhir pernyataannya, Mu'ti menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar instruksi teknis. Ia menekankan semangat untuk bangkit di tengah kesulitan.
“Yang penting adalah semangat kita untuk bangkit, semangat kita untuk tetap belajar, dan bersemangat meraih masa depan,” tutupnya. Sebuah penutup yang sederhana, tapi sarat makna untuk mereka yang harus belajar di antara puing dan tenda darurat.
Artikel Terkait
Bareskrim Bobol 21 Situs Judi Online, Sita Aset Hampir Rp 97 Miliar
Politisi Bocorkan Dana 20 Miliar untuk Kursi, Rakyat Kecil yang Dituduh
Han Ji Min dan Lee Joon Hyuk Bawa Kisah CEO Dingin dan Sekretaris Idaman di Love Scout
Kejati Sumsel Gagalkan Kerugian Negara Rp616 Miliar dari Kredit Bermasalah