Menteri Keuangan Israel yang dikenal beraliran keras, Bezalel Smotrich, memberikan pernyataan mengejutkan. Hamas, kata dia, kemungkinan besar akan segera dihadapkan pada pilihan berat: menyerahkan senjata atau menghadapi konsekuensi. Ancaman itu jelas militer Israel siap menduduki seluruh Gaza jika ultimatum itu diabaikan.
Dalam wawancaranya dengan penyiar publik Kan, Smotrich terlihat percaya diri.
"Kami perkirakan dalam hitungan hari, Hamas akan dapat ultimatum. Isinya jelas: lakukan pelucutan senjata, demiliterisasi total di Gaza," ujarnya.
Lalu, bagaimana jika mereka menolak?
"Kalau tidak patuh, IDF akan dapat legitimasi internasional dan dukungan AS buat bertindak sendiri. Soal persiapan, tentara kami sudah siap dan sedang menyusun rencana-rencana konkret," tambah sang menteri, yang juga duduk di kabinet keamanan Israel yang berwenang menyetujui operasi militer besar.
Memang, situasi di lapangan masih rumit. Gencatan senjata yang difasilitasi Amerika sempat menghentikan pertempuran dua tahun itu, membawa fase tenang sesaat. Pada fase pertama itu, tentara Israel mundur ke belakang Garis Kuning. Tapi kendali atas lebih dari separuh wilayah Gaza ternyata masih di tangan mereka.
Fase kedua, yang resmi dimulai bulan lalu, sebenarnya mengusung rencana penarikan tentara Israel secara bertahap disertai pelucutan senjata Hamas. Namun, kelompok militan itu jelas-jelas menolak mentah-mentah skenario tersebut.
Nah, di sinilah ancaman Smotrich makin keras. "Militer Israel pasti akan masuk dan menduduki Gaza kalau Hamas tidak bubar dengan sendirinya," tegasnya.
Tentang cara eksekusinya, dia mengaku belum punya satu jawaban pasti. "Saat ini ada dua atau tiga alternatif yang sedang kami pertimbangkan," ucap Smotrich, tanpa mau merinci lebih jauh.
Rencana perdamaian dari Presiden AS Donald Trump juga ikut memengaruhi dinamika. Rencana itu mengusung pembentukan pasukan penjaga perdamaian internasional Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) berkekuatan 20.000 personel. Beberapa negara disebut sudah berkomitmen mengirimkan kontingen.
Lantas, bagaimana operasi militer Israel bisa berjalan jika ada pasukan asing di lapangan? Menurut Smotrich, justru kehadiran pasukan asing itu akan membuat Hamas cepat mundur. "Mereka akan minggir dan membiarkan kami masuk. Ini semua sudah dikoordinasikan dengan Amerika," paparnya.
Tapi dia menyelipkan komentar sinis tentang pasukan internasional itu. "Ngomong-ngomong, saya belum melihat mereka masuk secepat yang dibayangkan," tambahnya mengenai ISF.
Suasana tegang masih menyelimuti wilayah itu. Ultimatum yang disebut-sebut tinggal menunggu hari itu bisa menjadi titik balik atau justru memicu babak konflik yang lebih panas lagi.
Artikel Terkait
OSO Bela Pemberian Jet Pribadi ke Menag: Tak Ada Hubungan dengan Dinas
KPK Siapkan Jawaban atas Praperadilan Mantan Menag Yaqut
Kecelakaan Dua Bus Transjakarta Koridor 13 Lukai 23 Penumpang
Kurma di Bulan Ramadan: Manfaat Gizi di Balik Tradisi Berbuka