Menguak Kesesatan Berpikir Pendaku Salafiyy dalam Mendoakan Penguasa Zalim

- Minggu, 04 Januari 2026 | 06:20 WIB
Menguak Kesesatan Berpikir Pendaku Salafiyy dalam Mendoakan Penguasa Zalim

Sesat Pikir & Kebodohan PENDAKU Salafiyy

Oleh: Arsyad Syharial

Membaca postingan oknum PENDAKU Salafiyy yang satu ini, saya cuma bisa geleng-geleng. Lalu tertawa. Sakit perut dibuatnya.

Gimana enggak?

Lihat saja. Perkataan seorang alim, Imam al-Hasan ibn Ali al-Barbahari al-Hanbali rahimahullah, mereka jadikan semacam "patokan mutlak". Siapa yang tak ikut, langsung cap "ahlul bid'ah". Yang ikut, baru diakui "ahlus sunnah". Begitu saja. Gampang banget, ya?

Padahal, perkataan Imam al-Barbahari itu bukan dalil syar'i. Bisa jadi benar, memang, kalau yang didoakan keburukan itu penguasa yang shalih, adil, dan cakap. Logikanya sederhana: mendoakan keburukan untuk pemimpin yang baik jelas tindakan pengikut hawa nafsu.

Tapi ceritanya bakal beda total kalau yang didoakan itu penguasa buruk dan zalim. Nah, ini yang mereka lupakan. Atau sengaja diabaikan? Kalau tetap ngotot, ya namanya sesat.

Buktinya, dalam Al-Qur'an surah Yunus ayat 89, Allah justru mengabadikan doa Nabi Musa 'alaihissalam yang mendoakan keburukan bagi Firaun. Menariknya, ini satu-satunya doa untuk penguasa yang tercantum dalam Kitabullah.

Lucunya, biasanya kalau ayat ini dibawa, jawaban klise mereka langsung keluar. "Jadi anda samakan pemimpin Muslim yang zalim dengan Firaun?"

Pertanyaan itu justru membuktikan kebodohan mereka sendiri. Sebab, Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pernah mendoakan keburukan bagi siapa pun yang diberi kuasa atas umat Islam lalu ia menzalimi mereka.

“Allahumma man waliya min amri ummati syai-an fasyaqqa ‘alaihim fasyquq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummati syai-an farafaqa bihim farfuq bihi.”

Artinya kurang lebih: "Ya Allah, siapa yang memegang urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang memegang urusan umatku lalu ia berlemah lembut pada mereka, maka berlemah lembutlah padanya." (HR. Muslim)

Bahkan, mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi itu adalah hak bagi si tertindas. Ini jelas tercantum dalam QS. An-Nisa' ayat 148.

Nah, berdasarkan nash-nash seperti inilah para Salafush Shalih tak pernah ragu. Mereka tegas mendoakan keburukan bagi penguasa zalim, meski sang penguasa itu masih shalat dan hukum yang diterapkannya secara formal adalah syariat.

Lebih jauh lagi, coba bayangkan.

Kalau perkataan Imam al-Barbahari tadi dibawa ke zaman sekarang. Lalu diterapkan pada 1,8 juta Muslim yang hidup di koloni pemukim ilegal Zionis, atau 4,4 juta Muslim di Amerika, atau 215 juta Muslim di India.

Apa masuk akal mereka harus mendoakan kebaikan untuk Netanyahu, Trump, atau Modi agar tetap diakui sebagai Ahlus Sunnah?

Well, orang yang pikirannya jernih dan hati nuraninya lurus pasti tahu jawabannya.

IQ itu pemberian. Bodoh itu pilihan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar