Keluarga Berduka, Kenangan Terakhir tentang Siti Solihah dan Dua Anaknya

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 18:12 WIB
Keluarga Berduka, Kenangan Terakhir tentang Siti Solihah dan Dua Anaknya

Suasana duka masih pekat di sebuah rumah di Warakas, Tanjung Priok. Sabtu pagi itu, Husni (56) duduk termenung, mengenang adiknya, Siti Solihah. Perempuan itu ditemukan tewas bersama dua anaknya di rumah kontrakan mereka. Sebuah akhir yang tak pernah terbayangkan.

Husni adalah anak pertama dari enam bersaudara. Siti Solihah, adik keempatnya. Saat berbicara dengan beberapa wartawan, pria itu berusaha menggambarkan sosok adiknya. Menurutnya, Solihah adalah ibu yang sangat dikenal baik di lingkungannya.

“Sosok ibu itu, jangankan dia keluar, di tetangga, saudara semua dikenal luwes bergaul. Dan murah senyum, kebetulan dia kan punya lulusan yang tinggi juga. Jadi kalau di jemaah masjid, di jemaah ibu-ibu, dia pintar dalam menjawab pertanyaan, kayak kuis misalnya. Komentar temen temennya, dia pintar nih, bukan sembarangan orang,”

kenang Husni, suaranya berat.

Ada satu kenangan yang kini terasa sangat menyayat. Pertemuan terakhir mereka terjadi cuma tiga hari sebelum tragedi. Husni masih jelas mengingatnya.

“Tiga hari sebelum kejadian. Saya lupa. Hari selasa atau hari senin gitu, dia berkunjung ke saya. Saya kan habis dirawat, di sini baru dua hari, dia datang membawa ikan mentah, sop mentah, ini dimasak ya, bisa bantu ini aja katanya, iya ga apa apa. Itu aja,”

ujarnya, tak lagi mampu menahan tangis.

Di sisi lain, proses pemakaman telah dilangsungkan lebih dulu. Sabtu siang, ketiga korban Siti Solihah (50), Afiah Al Adilah Jamaludin (28), dan Adnan Al Abrar Jamaludin (14) akhirnya beristirahat di TPU Rorotan. Prosesi dimulai sekitar pukul satu lebih dua puluh. Isak tangis melepas setiap jenazah yang diturunkan ke liang lahat.

Khadafi, anak sulung Solihah yang pertama kali menemukan kejadian mengerikan itu, menyambangi satu per satu makam keluarganya. Dia menaburkan bunga, berdoa pelan. Di depan makam kakaknya, Afiah, dia tak kuasa.

“Teteh makasih banyak ya. Teteh udah hadir. Maaafin aku ya,”

rintihnya, sesenggukan.

Sementara itu, kabar terbaru menyebutkan satu anggota keluarga lain, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), masih bertahan di rumah sakit. Kondisinya kritis, masih membutuhkan perawatan intensif.

Lalu, apa penyebab pastinya? Polisi masih menyelidiki. Autopsi memang sudah selesai, tapi penyidik masih menunggu. Hasil pemeriksaan toksikologi dinanti untuk memastikan ada tidaknya racun atau faktor lain di balik kematian bertiga ini. Semuanya masih gelap, penuh tanda tanya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar