Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. Langkah ini tentu saja langsung memicu tanda tanya besar: bagaimana reaksi Rusia dan China, dua sekutu utama Caracas?
Dulu, Maduro bisa dibilang punya sandaran yang kuat pada kedua negara itu. Tapi situasi berubah. AS, dengan alasan memerangi perdagangan narkoba, telah mengerahkan kekuatan militernya di sekitar Venezuela. Ketidakpastian pun merayap.
Dilaporkan BBC pada Minggu (4/1/2025), dukungan politik, finansial, dan militer dari Moskow dan Beijing sudah berlangsung bertahun-tahun. Awalnya, hubungan erat ini dibangun oleh Hugo Chávez, sang pendahulu sekaligus mentor bagi Maduro.
Namun begitu, dukungan yang tersisa sekarang terasa lebih simbolis ketimbang nyata. Keduanya memang rutin mengeluarkan pernyataan dukungan, tapi bantuan militer atau suntikan dana segar secara terbuka? Itu lain cerita.
Menurut The Washington Post, Maduro sebenarnya sudah meminta bantuan militer langsung ke Rusia dan China pada akhir Oktober 2025. Tanggapan dari Moskow terasa sangat diplomatis.
Artikel Terkait
Antrean Panjang di KPP, Sinyal Transisi Berat Sistem Pajak Digital
Fortuner Modifikasi Solar Ilegal Tertangkap Basih Nyabu di Jagorawi
Gelombang Pemudik Tumpah di Stasiun Jakarta, 54 Ribu Penumpang Tiba dalam Sehari
Gatot Subroto Tersendat, Kendaraan Merayap Lebih Lambat dari Pejalan Kaki