Ketika Game Over Menjadi Kenyataan: Ambang Gugur dan Rapuhnya Mimpi Amerika

- Senin, 05 Januari 2026 | 11:00 WIB
Ketika Game Over Menjadi Kenyataan: Ambang Gugur dan Rapuhnya Mimpi Amerika

“Ambang Gugur”: Ketika Mimpi Amerika Hanya Tinggal Sebatas Game Over

Bayangkan Anda sedang main game. Karakternya punya health bar. Kalau bar itu habis, ya habislah. Karakter itu “gugur”, keluar dari permainan. Istilah “ambang gugur” atau failure threshold memang lahir dari dunia game online. Tapi belakangan, istilah itu merayap keluar. Ia dipakai untuk menggambarkan kondisi nyata di Amerika Serikat, terutama untuk mereka yang hidup di ujung tanduk para tunawisma dan mereka yang terpinggirkan. Pergeseran makna ini bukan tanpa alasan. Ia seperti cermin yang memantulkan betapa rapuhnya hidup warga biasa sekarang. Narasi American Dream pun mulai dipertanyakan lagi. Lebih dalam lagi, istilah ini menyingkap sebuah mekanisme tersembunyi: saat seseorang jatuh melewati batas minimal untuk bertahan hidup, ia bisa tersingkir secara sistematis. Bukan cuma dari jaring pengaman sosial, tapi juga dari kesempatan, bahkan martabatnya.

Di Amerika, “ambang gugur” ini bukan cuma soal angka kemiskinan. Ia lebih rumit. Ia muncul dari tumpang tindihnya beberapa ambang kritis di level kelembagaan. Ketika tanggung jawab berbagai pihak pemerintah, pasar, masyarakat tidak nyambung, jadilah lingkungan sosial yang punya toleransi sangat rendah terhadap risiko. Satu salah langkah, konsekuensinya bisa fatal.

Semua berawal dari tiga pilar yang goyah: kesehatan, uang, dan tempat tinggal. Ambil contoh kesehatan. Sistem kesehatan di sana sangat komersial dan terfragmentasi. Kualitas layanan beda-beda tergantung daerah, bahkan tergantung pekerjaan dan latar ras seseorang. Data Biro Sensus AS tahun 2024 cukup menohok: sekitar 8% penduduk tidak punya asuransi kesehatan sepanjang tahun. Tapi angka itu menipu. Lihat rinciannya: pada orang dewasa Hispanik/Latino, angkanya melonjak jadi 24,6%. Pada kulit hitam, sekitar 10,5%. Dan di sektor-sektor berupah rendah seperti pertanian atau perikanan? Hampir 30% pekerjanya tidak terlindungi asuransi.

Di sisi pendapatan, masalahnya juga kronis. Upah minimum federal mandek sejak 2009. Bayangkan, sudah 15 tahun tidak naik. Sementara inflasi menggerogoti daya beli, hingga nilai riil upah itu diperkirakan anjlok sekitar 30%. Banyak keluarga terjebak dalam status working poor sibuk kerja, tapi tetap miskin. Perlindungan kesejahteraan pun banyak bergantung pada majikan atau aturan tiap negara bagian. Para pekerja gig dan lepas seringkali jatuh di antara celah. Data Federal Reserve Bank of Minneapolis (2023) menunjukkan sesuatu yang muram: dari pekerja yang menganggur dan seharusnya dapat tunjangan, rata-rata cuma 29% yang benar-benar menerimanya. Hasilnya? Terbentuklah kelompok masyarakat yang dayanya tipis. Mereka terus bertahan di bawah tekanan biaya hidup, tanpa ruang untuk bernapas, apalagi bangkit.

Lalu ada pendidikan. Selama ini ia diagung-agungkan sebagai tangga mobilitas sosial. Tapi kenyataannya? Ia justru sering jadi sumber utang dan jebakan. Mekanisme pinjaman mahasiswa di AS sangat terfinansialisasi. Bunganya bisa menumpuk dan menggulung pokok utang, seperti bola salju yang makin besar. Hingga akhir 2024, total utang pelajar AS sudah mencapai US$1,77 triliun. Rata-rata setiap peminjam terbebani lebih dari US$38.000. Bagi keluarga menengah ke bawah yang berharap pendidikan mengubah nasib, utang ini justru jadi beban jangka panjang. Jalur untuk naik kelas sosial malah menyempit.


Halaman:

Komentar