Duel Lagu Slank vs Kuburan Band: Kritik atau Cermin Retaknya Debat Publik?

- Minggu, 04 Januari 2026 | 09:25 WIB
Duel Lagu Slank vs Kuburan Band: Kritik atau Cermin Retaknya Debat Publik?

“Republik Fufufafa” Dibalas “Tak Diberi Tulang Lagi”: Perang Lagu atau Cermin Retak Demokrasi?

Belakangan ini, jagat maya Indonesia diramaikan duel tak biasa. Slank meluncurkan lagu kritik berjudul “Republik Fufufafa”. Tak lama, muncul jawaban lewat lagu “Tak Diberi Tulang Lagi” yang dikait-kaitkan dengan “Kuburan Band”, meski klaim itu keliru. Tapi, ini bukan cuma soal musik. Lebih dari itu, fenomena ini seperti potret mini yang jernih atau justru buram tentang cara kita berdebat dan berpolitik sekarang.

Di satu sisi, kita bisa melihatnya sebagai “dialektika kreatif”. Sebuah tanda bahwa ruang publik masih hidup, di mana kritik dibalas dengan karya, bukan dengan pemberangusan. Namun begitu, kalau dicermati lebih dalam, ada gejala yang mengkhawatirkan. Ruang diskusi kritis seolah bergeser dari pembahasan substansi yang berbobot ke pertarungan simbol dan narasi yang cair, personal, dan gampang diretas.

Dari Kritik Sistem ke Serangan Pribadi

Lagu Slank jelas-jelas menyerang sistem. “Fufufafa” bisa dibaca sebagai tawa sinis atau napas tersengal, sebuah metafora untuk negara yang dianggap sakit. Liriknya menyasar korupsi, kekuasaan, dan kebijakan yang jahat. Ini adalah tradisi musik protes yang sudah lama.

Nah, balasannya itu yang menarik. Lagu “Tak Diberi Tulang Lagi” dengan cerdik dan sinis mengalihkan fokus. Alih-alih menjawab soal gizi buruk atau keadilan yang dikritik Slank, lagu balasan ini justru menyerang posisi Slank sendiri. Metafora “anjing setia” yang “tak diberi tulang” lalu “menggonggong pada tuannya” adalah serangan ad hominem yang kreatif.

Pesan tersiratnya kira-kira begini: Kritik kalian itu bukan murni, tapi sekadar kekecewaan karena enggak lagi kebagian “jatah” atau tempat di lingkaran kekuasaan. Strategi klasik. Dengan meragukan motivasi si pengkritik, pesan yang disampaikan pun ikut dicurigai.

Perang di Dunia Cair: TikTok dan Identitas Samar

Yang bikin makin rumit, “perang” ini meletup di TikTok. Ruang yang cair banget. Pencipta lagu balasannya samar, dikaitkan dengan band yang malah enggak ngaku. Ini ciri khas era post-truth. Sebuah narasi bisa lahir, viral, dan berpengaruh tanpa perlu pencipta yang jelas.

Pesan menjadi segalanya. Atau, pesan itu sendiri yang jadi pembawa pesan. “Kuburan Band” di sini bukan grup musik beneran, tapi lebih seperti meme. Sebuah wadah kosong untuk menampung sentimen anti-Slank.

Tentu saja, ini menguntungkan pihak tertentu. Mereka bisa melancarkan serangan balik tanpa risiko reputasi atau tuntutan hukum. Semacam astroturfing dukungan akar rumput yang direkayasa tapi dalam bungkus budaya pop.

Memang, ada yang bilang “kreativitas dibalas kreatif” itu lebih sehat bagi demokrasi. Lebih baik daripada buku dibredel atau aktivis diteror. Betul. Pertukaran ide lewat seni adalah tanda masyarakat yang hidup.


Halaman:

Komentar