“Kami sangat khawatir dengan kondisi struktur bangunannya,” ujar seorang pegiat budaya setempat yang enggan disebutkan namanya.
Ia menjelaskan, material zaman dulu berbeda dengan sekarang. “Rendaman yang lama bisa melemahkan pondasi dan dinding bata. Butuh penanganan cepat setelah air surut.”
Memang, ini bukan kali pertama situs tersebut kebanjiran. Namun begitu, intensitas hujan dan luapan kali yang terjadi pekan ini terbilang parah. Di sisi lain, perhatian terhadap mitigasi bencana untuk cagar budaya seperti ini kerap dinilai masih kurang. Padahal, sekali rusak, hilanglah sebagian cerita kita.
Artikel Terkait
Longsor di Kudus Seret Dua Kendaraan ke Jurang
Istri di Balik Badai Haji: Eny Retno, Perempuan yang 21 Tahun Hidup dalam Sunyi
Menteri Agama: Ketahanan Bangsa Berawal dari Keluarga yang Kokoh
Kardinal Suharyo Buka Perayaan Natal DKI dengan Cerita Gembala dan Dua Hewan