Jumat pagi itu, jalan-jalan di Cirebon Timur berubah total. Bukan lagi lalu lintas biasa yang terlihat, melainkan lautan manusia. Semuanya menunggu satu orang: Dede April, finalis Dangdut Academy 7 yang baru saja bawa pulang gelar juara ketiga. Rasa bangga warga terhadap putra daerahnya itu benar-benar terpancar jelas.
Matahari belum terik, tapi warga udah pada berjubel. Dari anak kecil sampai yang sepuh, mereka rela nongkrong berjam-jam di bahu jalan. Tujuannya sederhana: ingin lihat langsung, ambil foto, atau sekadar ikut merasakan euforia kebanggaan itu. Suasana hangat dan riuh rendah sudah terasa sejak dini hari.
Antusiasme ini tersebar di mana-mana. Titik keramaian salah satunya ada di depan sebuah swalayan di Kecamatan Lemahabang. Kabar bahwa April akan mampir ke sana bikin warga berdatangan sejak subuh. Tapi kerumunan nggak cuma di situ. Sepanjang rute yang dilewati konvoinya, mulai dari Pintu Keluar Tol Ciledug, Perempatan Babakan Losari, Balai Desa Kalibuntu, hingga akhirnya Lapangan Desa Pasuruan, semuanya dipadati penyambut.
Wawan, seorang warga berusia 38 tahun, mengaku sengaja nemenin istrinya yang pengin banget ketemu sang idola.
“Dari pagi saya di sini. Isteri saya yang maksa, soalnya dia fans berat. Ya, saya sendiri juga bangga sih. Dede April udah mengharumkan nama Cirebon Timur di kancah nasional,” ujarnya.
Baginya, pencapaian April ini bukan cuma sekadar prestasi pribadi. Tapi lebih dari itu, jadi bukti kalau anak-anak daerah punya talenta yang nggak kalah.
Perasaan serupa diungkapkan Yati (42). Warga Desa Kalibuntu ini datang bareng keluarga besar, matanya terus awasi jalan, menanti kedatangan yang dinanti.
“Seneng banget akhirnya bisa lihat langsung. Dia itu kebanggaan kita semua,” katanya sambil tersenyum lebar.
Di sisi lain, ada Dimas (26) asal Pasuruan. Dia rela berdiri lama di terik, cuma buat mengabadikan momen sekilas lewatnya mobil sang idola.
Artikel Terkait
Ucapan Raffi Ahmad untuk Raja Tambang Picu Sorotan Warganet
Merapi dan Pantai Jadi Magnet, Yogyakarta Diserbu 1,9 Juta Wisatawan Saat Nataru
Jembatan Penyeberangan Patung Kuda Berwajah Baru, Ornamen Kuda Jadi Daya Tarik
Tangis Khadafi di Makam Ibu, Kakak, dan Adiknya yang Meninggal Bersamaan