Lalu yang ketiga adalah prinsip mencegah kerusakan (dar’u al-mafasid). Di sini, seorang pemimpin harus punya nyali untuk mencegah kemungkaran. Setiap kebijakan perlu dikaji matang, mempertimbangkan segala risiko agar tidak malah menimbulkan ketidakadilan atau konflik. Kebijaksanaan dan kehati-hatian jadi kunci.
Di sisi lain, Hambari juga menekankan bahwa kepemimpinan model ini harus punya orientasi luas. Tidak boleh egois atau hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Kepemimpinan harus berpihak pada kemaslahatan bersama dan menjaga lingkungan. Itu juga bagian dari amanah, tuturnya.
Khutbah di awal tahun ini seperti menjadi refleksi bersama. Bagi banyak jamaah, pesannya mengingatkan bahwa setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, entah di lingkup formal, keluarga, atau masyarakat.
Pesan itu menggantung, memberikan warna tersendiri bagi perjalanan di tahun yang baru dimulai.
Artikel Terkait
Gattuso, Buffon, dan Gravina Mundur Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan
PSSI Tegaskan Semua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Sah Secara Hukum
LavAni Tundukkan Garuda Jaya 3-0 di Final Four Proliga Surabaya