Lalu yang ketiga adalah prinsip mencegah kerusakan (dar’u al-mafasid). Di sini, seorang pemimpin harus punya nyali untuk mencegah kemungkaran. Setiap kebijakan perlu dikaji matang, mempertimbangkan segala risiko agar tidak malah menimbulkan ketidakadilan atau konflik. Kebijaksanaan dan kehati-hatian jadi kunci.
Di sisi lain, Hambari juga menekankan bahwa kepemimpinan model ini harus punya orientasi luas. Tidak boleh egois atau hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Kepemimpinan harus berpihak pada kemaslahatan bersama dan menjaga lingkungan. Itu juga bagian dari amanah, tuturnya.
Khutbah di awal tahun ini seperti menjadi refleksi bersama. Bagi banyak jamaah, pesannya mengingatkan bahwa setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, entah di lingkup formal, keluarga, atau masyarakat.
Pesan itu menggantung, memberikan warna tersendiri bagi perjalanan di tahun yang baru dimulai.
Artikel Terkait
Saksi Terakhir yang Bertemu Afiah: Ia Tampak Biasa Saja
Di Tengah Gemuruh Rawa Belong, Bambang Setia Meracik Bunga di Pinggir Jalan
Tragedi Warakas: Teriakan Histeris Pecah di Pagi Buta, Tiga Nyawa Melayang
Perpustakaan di Sekolah Rakyat: Mengubah Cara Pikir untuk Putuskan Rantai Kemiskinan