Di Tengah Gemuruh Rawa Belong, Bambang Setia Meracik Bunga di Pinggir Jalan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:30 WIB
Di Tengah Gemuruh Rawa Belong, Bambang Setia Meracik Bunga di Pinggir Jalan

Sebuah plastik tipis terhampar langsung di atas aspal Jalan Sulaiman, Kebon Jeruk. Di atasnya, tumpukan melati, mawar, dan daun pandan tersusun apa adanya. Tak ada meja, tak ada alas lain. Yang ada hanya deru kendaraan yang lalu-lalang, hanya berjarak beberapa langkah dari lapak sederhana milik Bambang.

Di kawasan Rawa Belong yang terkenal sebagai pusat bunga terbesar di Jakarta, pria ini memilih cara yang sangat sederhana untuk berjualan bunga tabur. Semuanya serba minimalis.

“Saya dari awal memang jualannya begini, di pinggir jalan, yang penting bunganya rapi dan masih segar,”

kata Bambang suatu Sabtu di awal Januari, saat ditemui tengah mengurus dagangannya. Suaranya tenang di tengah kebisingan jalan.

Setiap pagi, ia datang lebih awal. Bunga-bunga segar itu dibelinya dari pemasok di sekitar Rawa Belong kawasan yang sejak dulu jadi jantung distribusi bunga potong dari berbagai penjuru. Jadi, bisa dibilang, perjalanan bunga-bunga itu berakhir juga di pinggir jalan ini, setelah melalui tangan petani dan para pedagang besar. Di sini, di atas plastik itu, Bambang meraciknya ulang sesuai pesanan pembeli.

Dia cuma fokus jualan bunga tabur. Tak ada bunga papan atau buket-buket cantik. Pilihan itu disengaja. Menurut Bambang, pasar bunga tabur itu jelas dan konsisten. Pelanggannya tahu apa yang mereka cari.

“Orang ke sini biasanya sudah tahu mau beli apa. Kalau mau ziarah, ya pasti cari bunga tabur,”

ujarnya.

Proses meraciknya dilakukan langsung di tempat. Tangannya cekatan memilah, membuang yang layu, lalu mencampur sesuai permintaan. Ritual harian yang ia lakukan dengan sabar.

“Ada yang minta melatinya dibanyakin, soalnya wangi. Ada juga yang minta pandan lebih banyak biar awet,”

katanya sambil tangannya tak berhenti bergerak.

Interaksi dengan pembeli biasanya singkat, tapi akrab. Sebagian hanya berhenti sebentar dengan motornya, membeli, lalu pergi. Ada juga yang datang bersama keluarga. Transaksinya cepat.

“Biasanya mereka nggak lama. Datang, beli, langsung jalan,”

kata Bambang menggambarkan rutinitasnya.

Namun begitu, ritme penjualannya punya pola sendiri. Pada hari-hari biasa, pembeli tetap ada meski tak ramai-ramai amat. Tapi coba lihat saat mendekati hari besar keagamaan. Suasananya bakal beda sama sekali.

“Kalau mau Ramadan atau Lebaran, atau seperti Natal kemarin, itu rame. Bunganya bisa cepat habis,”

ceritanya.


Halaman:

Komentar