Langit Indonesia bakal bertambah ramai di tahun 2026. Dua maskapai baru bersiap mengudara, dengan fokus bisnis yang berbeda jauh. Satu khusus melayani jamaah haji dan umrah, sementara satunya lagi mengincar rute internasional berjadwal.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyambut positif rencana ini. Menurutnya, investasi di sektor penerbangan sangat dibutuhkan. Pasalnya, pasca pandemi, permintaan terbang melonjak tapi armada pesawat kita masih terbatas. Banyak pesawat yang belum kembali beroperasi.
"Investasi penerbangan sangat terbuka, karena kita kan masih butuh banyak juga begitu. Siapa saja, yang mau buka silahkan saja,"
ujar Menhub usai sebuah acara di Tangerang, Rabu lalu.
Nah, siapa saja pendatang baru itu?
Pertama, ada Mukhtara Air. Maskapai ini bagian dari holding company asal Madinah, Arab Saudi, yang bisnis utamanya memang di sektor perhotelan dan travel haji-umrah. Rencananya, mereka mulai terbang Januari 2026 nanti.
Untuk melayani jamaah, mereka akan pakai pesawat berbadan lebar seperti Airbus A330 dan Boeing 777. Rute yang diajukan ke otoritas kita adalah Jakarta dan Surabaya, menuju Madinah serta Jeddah.
"Belum tahu seminggu mereka akan terbang berapa kali. Itu masuknya pesawat regular, bukan carter. Ini pakai pesawat wide body, agar bisa terbang jauh,"
tambah Menhub. Proses perizinan dan sertifikat operator (AOC) sedang berjalan.
Di sisi lain, ada juga rencana dari tetangga dekat. Borneo Air, maskapai yang digagas Pemerintah Sarawak, Malaysia, juga menargetkan operasi di awal 2026. Fokus mereka adalah menghubungkan Sarawak dengan kota-kota di Pulau Borneo, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN) yang baru.
Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, menyebutkan antusiasmenya. Pertemuan dengan Otorita IKN beberapa waktu lalu membahas kerja sama ini.
"Kita dalam pulau yang sama di Borneo. Kami sangat tertarik dengan pembangunan Nusantara, ini adalah masa depan. Sesama di Borneo, kami bangga nantinya seluruh dunia akan datang ke Nusantara,"
katanya dalam sebuah pernyataan.
Namun begitu, dari sisi administrasi di Indonesia, kabarnya masih ada tahapan yang harus diselesaikan. Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara, Achmad Setiyo Prabowo, mengakui ada penjajakan investasi. Tapi, ia menegaskan bahwa belum ada dokumen legal formal yang masuk.
"Kalau penjajakan memang iya, tapi kalau sampai saat ini memang belum ada yang formal, atau belum ada legal formalnya, baru diskusi-diskusi saja,"
jelasnya pada Kamis (11/12).
Jadi, meski semangatnya sudah mengudara, realisasi di lapangan masih menunggu kepastian lebih lanjut. Dua maskapai, dua cerita, sama-sama ingin mengepakkan sayap di atas Indonesia.
Artikel Terkait
Penjualan Mobil Nasional Melonjak 55 Persen pada April 2026, Gaikindo Optimistis Industri Otomotif Tumbuh Solid
Menkeu: Aturan DHE SDA Perkuat Likuiditas Bank Himbara, tapi Harga Saham Belum Bergerak
Harga Pangan Senin: Cabai Merah dan Daging Ayam Ras Melonjak Tajam, Cabai Rawit Hijau Justru Anjlok
Investasi Global AI Tembus Rp10.300 Triliun pada 2025, Melonjak 129,9 Persen