Dari kompleks Istana Kepresidenan, Senin lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto angkat bicara soal situasi panas di Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat tentu jadi perhatian banyak pihak, termasuk Indonesia. Tapi, menurut Airlangga, pemerintah masih terus memantau. Dampaknya terhadap harga minyak dunia? Belum terlihat gejolak yang berarti.
"Harga minyak kami monitor, kalau satu dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi," ujarnya kepada para wartawan.
Dia menyebut harga masih relatif rendah, berkisar di angka 63 dolar AS per barel. Karena itu, pemerintah belum ambil langkah antisipatif khusus. Sikapnya lebih ke menunggu dan melihat bagaimana perkembangan selanjutnya. Situasi dinilai masih cukup stabil.
Di sisi lain, kerja sama Indonesia dengan Venezuela, termasuk di sektor energi, juga masih dalam pemantauan. Airlangga mengingatkan, dinamika politik di negara produsen minyak itu sudah berlarut-larut. Akarnya bisa ditarik jauh ke belakang, tepatnya ke era Presiden Hugo Chavez yang memutuskan nasionalisasi aset-aset asing.
"Kalau dengan AS kan memang sudah agak panjang sejak nasionalisasi oleh Hugo Chavez. Jadi memang pada waktu itu, aset-aset Amerika dinasionalisasi. Nah, ini kemudian berikutnya sekarang dengan situasi seperti ini, kita monitor saja seperti apa," jelas Airlangga.
Dia memastikan Indonesia tak punya aset di Venezuela. Namun, pergantian pemerintahan di sana berpotensi memengaruhi nota kesepahaman atau MoU yang sudah ada. "Ya, tentunya ada perubahan dengan perubahan yang terjadi kemarin, karena pemerintahannya kan berganti," tuturnya.
Artikel Terkait
Huntara Aceh Tamiang Capai 75 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Pekan
Indonesia Amankan Hotel dan Lahan Strategis di Mekkah untuk Kampung Haji
Cak Imin Anggap Candaan Prabowo Soal PKB Tak Perlu Dibesar-besarkan
Honor Rp 10 Miliar Farel hingga Status Tersangka Richard Lee: 5 Berita yang Mengguncang Selasa