Selama ini, upaya mengentaskan kemiskinan kerap hanya berkutat pada bantuan tunai atau sembako. Padahal, ada akar masalah yang sering luput: kegagalan membangun cara berpikir. Nah, di sinilah perpustakaan bisa berperan sebagai mesin perubahan perilaku, menangani kemiskinan ekstrem dari hulunya.
Harus diakui, kondisi perpustakaan di Sekolah Rakyat masih sangat awal. Bukunya baru ada, layanannya belum tertata rapi. Tulisan ini bukan klaim sukses, tapi lebih pada membaca arah angin: bagaimana perpustakaan mulai dianggap serius dalam mendesain pembinaan anak-anak dari keluarga termiskin.
Saya pernah menulis bahwa bantuan tunai atau pangan saja tak akan cukup. Tanpa membangun kapasitas berpikir, kemiskinan ekstrem akan terus berputar dari generasi ke generasi. Bantuan itu meredakan sesaat, tapi tidak mengubah kemampuan seseorang dalam membaca situasi dan mengambil keputusan terbaik untuk hidupnya.
Lalu, apa itu kapasitas berpikir? Singkatnya, ia adalah kemampuan memahami informasi, mengelola pilihan, dan bertindak secara sadar. Ini bukan hal yang instan. Ia tumbuh lewat proses literasi yang terstruktur dan berulang, bukan dari sekadar baca-baca santai yang kadang-kadang.
Sekolah Rakyat dan Pengakuan Negara
Pemahaman ini kembali mengemuka saat saya menghadiri pra-launching Sekolah Rakyat di Bekasi. Dalam forum itu, Menteri Sosial mengakui sebuah fakta pahit: ketimpangan kemampuan dasar anak Indonesia masih menganga lebar. Mirisnya, bahkan di tingkat sekolah menengah, masih ada anak yang belum lancar membaca.
Jadi, seruan "agar tidak ada anak putus sekolah" bukan cuma soal akses. Ia menyentuh persoalan yang lebih dalam: kemampuan anak untuk betah dan berkembang dalam sistem pendidikan itu sendiri. Dari cerita siswa dan orang tua, perubahan yang dibutuhkan ternyata meliputi keteraturan hidup, bukan hanya nilai rapor.
Perubahan yang Perlahan Tampak
Beberapa kisah dari lapangan cukup menyentuh. Nazriel, yang awalnya tak bisa baca, menunjukkan kemajuan akademik sekaligus kedisiplinan harian hanya dalam hitungan bulan. Ada juga Jumaroh, yang nyaris berhenti sekolah, kini kembali bersemangat mengikuti pelajaran.
Seorang wali murid bercerita, anaknya yang berprestasi tapi terhambat biaya, akhirnya bisa lagi ikut lomba dan menang penghargaan.
Pengalaman-pengalaman sederhana ini mengisyaratkan sesuatu: perubahan itu datang bukan semata dari kurikulum. Ia lahir dari adanya struktur perilaku yang jelas aturan, ritme kegiatan, dan pendampingan yang konsisten.
Dimana Posisi Perpustakaan?
Pentingnya struktur itu makin jelas saat saya mendampingi Kepala Perpustakaan Nasional RI, Aminuddin Azis, berdialog dengan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 70 Kendari, Yeni Alexander. Obrolan kami tidak untuk mengevaluasi capaian, tapi mencerna bagaimana literasi bisa dirajut ke dalam desain pembinaan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Dari dialog itu, fungsi strategis perpustakaan mulai terlihat. Ia tak bergantung pada banyaknya koleksi buku yang masih terbatas tapi pada cara literasi itu dihidupkan dalam keseharian.
Literasi yang Lebih dari Sekadar Membaca
Kepala Perpustakaan Nasional menegaskan satu hal. Literasi di Sekolah Rakyat bukan berhenti pada membaca. Anak-anak membaca, lalu mendiskusikan, dan akhirnya mengolah bacaan itu menjadi suatu aktivitas. Buku dibaca bersama, didedah, lalu dijadikan bahan untuk berkarya.
Pendekatan semacam ini membentuk kebiasaan. Anak-anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas. Literasi ditempatkan sebagai proses aktif yang terus bergulir.
Latar Belakang yang Tak Teratur
Kerangka pembinaan ini jadi sangat krusial mengingat latar belakang anak-anak Sekolah Rakyat. Banyak dari mereka datang dari lingkungan yang kacau. Pola makan, istirahat, aturan hidup bersama semua serba tak menentu.
Menyelesaikan konflik pun sering kali dengan cara keras, karena hanya itu yang mereka tahu. Kepala Sekolah menyebut mereka "anak-anak ajaib", punya energi luar biasa yang selama ini belum pernah diarahkan dengan struktur yang baik.
Perpustakaan sebagai Ruang Pembentuk Karakter
Dalam konteks seperti inilah, perpustakaan menemukan perannya. Ia menjadi ruang pembentukan perilaku. Anak-anak tak cuma meminjam buku; mereka dilibatkan mengelola ruang, menata rak, dan menjalankan kegiatan.
Pelibatan ini bukan untuk membebani. Ini tentang memberi pengalaman bertanggung jawab. Mereka belajar dipercaya, menjalankan tugas, dan berkontribusi. Perlahan-lahan, perilaku baru terbentuk.
Penutup
Jujur, perpustakaan di Sekolah Rakyat belum ideal. Koleksinya masih sedikit, layanannya masih dicari bentuknya. Tapi justru kondisi awal ini menunjukkan potensinya yang masih bisa dibentuk.
Jika kita serius menempatkan perpustakaan sebagai mesin perubahan perilaku, maka literasi bukan lagi aktivitas sampingan. Ia akan menjadi jantung dari desain pembinaan untuk membangun kapasitas berpikir dan pada akhirnya, memutus rantai kemiskinan ekstrem yang sudah terlalu lama berputar.
Artikel Terkait
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan
Makassar Alokasikan Rp10,6 Miliar untuk Bangun Jalan Akses TPA Antang
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur