Tahun baru seharusnya diwarnai kemeriahan. Tapi di penghujung 2025 ini, yang terdengar justru rintihan pilu dari seantero Nusantara. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga beberapa titik di Jawa semua berduka. Bencana banjir besar telah menyapa, meninggalkan duka yang dalam.
Bagi yang beriman, musibah adalah sunnatullah. Yang utama sekarang adalah kesabaran, lalu bangkit. Namun, di balik semangat itu, angka-angka tak bisa dibohongi: hampir seribu jiwa melayang, ratusan lainnya luka-luka. Peran semua pihak, dari masyarakat biasa hingga relawan, sangat dibutuhkan untuk memulihkan mereka yang selamat.
Menurut sejumlah laporan media nasional, kondisi pengungsian memprihatinkan. Bantuan sulit menjangkau karena akses terputus.
“Korban tewas bukan cuma karena terjangan air,” kata satu laporan, “tapi juga kelaparan dan kurangnya pasokan makanan yang layak.”
Seorang ibu hamil diketahui kehilangan janinnya akibat kekurangan gizi. Anak-anak pun menderita penyakit kulit karena terpaksa meminum air banjir yang keruh saat kehausan melanda. Situasinya benar-benar memilukan.
Nah, ke depan tantangannya makin berat. Pemulihan fisik dan psikologis korban akan makan waktu lama. Mereka masih diombang-ambingkan ketidakpastian: bisa bertahan atau tidak? Tempat tinggal yang jelas pun masih jadi mimpi.
Di sisi lain, akar masalahnya harus diakui: kerusakan alam ini ulah manusia juga. Eksploitasi demi kepentingan segelintir orang membuat ekosistem rusak parah. Bupati Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mengungkap sebuah data pahit: bencana serupa tahun 2007 terulang lagi di 2025 ini. Setelah 18 tahun, korban malah lebih banyak. Ini jelas menunjukkan kita gagal belajar dari masa lalu.
Artikel Terkait
Pendidikan Terkatung-katung: Ratusan Ribu Anak Korban Bencana Ditinggal Negara
Tiga Nyawa Melayang di Warakas, Mulut Berbusa dan Ruam Merah Jadi Petunjuk Awal
Demokrasi Terengah-engah, Ekonomi Merangkak: Potret Retak Pemerintahan Daerah
Dosen Gugat UU, Hak Hidup Layak Dipertaruhkan di Meja Hijau