Isu ijazah Presiden Joko Widodo terus bergulir, dan kini namanya dikait-kaitkan dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengamat politik Adi Prayitno punya pandangan keras soal ini. Menurutnya, masalah ini sudah jauh melenceng dari sekadar perdebatan hukum belaka. Ada upaya sistematis, begitu katanya, yang berpotensi merusak hubungan politik antar tokoh besar negeri ini.
Analisis terbaru Adi, yang dirilis Jumat lalu, menyoroti pernyataan politisi Demokrat Andi Arief. Andi mengancam akan menempuh jalur hukum terhadap sejumlah akun media sosial, terutama di TikTok, yang menuding SBY sebagai dalang di balik gembar-gembor isu ijazah tersebut.
"Ini mengonfirmasi bahwa persoalan ijazah Jokowi sudah meluas," ujar Adi.
"Bukan hanya soal sosok yang sudah jadi tersangka, tapi sudah merembet ke pihak lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali."
Baginya, tuduhan ke arah SBY itu sama sekali tidak punya dasar kalau kita lihat realitas politik yang ada sekarang. Isunya sudah "meluber" ke mana-mana, menyeret pihak-pihak yang sebenarnya tidak terkait.
Nah, poin krusial yang dia tekankan adalah indikasi kuat permainan adu domba di dunia digital. Narasi yang menyerang SBY itu, dalam pandangan Adi, jelas-jelas bertujuan menciptakan friksi atau keretakan buatan antara SBY dan Jokowi. Padahal, hubungan mereka tidak seperti yang digambarkan.
"Pernyataan Andi Arief sebenarnya ingin menegaskan bahwa akun-akun media sosial ini seringkali hanya mengadu domba SBY dengan Pak Jokowi," jelas Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu.
"Padahal secara prinsip, hubungan mereka baik-baik saja."
Sebagai bukti nyata, Adi mengajukan satu fakta yang sulit dibantah: posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang pernah duduk di kabinet Jokowi. Itu, tambahnya, adalah bukti sahih bahwa secara politik sebenarnya tidak ada barrier atau hambatan berarti antara Jokowi dengan SBY maupun partai Demokrat.
Di sisi lain, Adi juga tak sungkan mengkritik perilaku netizen di era yang serba post-truth ini. Dia menyayangkan betapa mudahnya banyak orang menarik kesimpulan, tanpa didukung data dan riset yang valid. Banyak akun medsos merasa punya informasi terpercaya, padahal cuma rumor yang berseliweran. Logika akademik pun dilupakan; dalam politik maupun akademisi, menuding sembarangan tanpa penelitian yang terukur itu jelas keliru.
Jangan lupa juga, SBY sekarang ini sudah tidak aktif lagi di politik praktis. Fokusnya lebih ke kegiatan seni dan olahraga, seperti Lavani yang sering dia ikuti. Ini penting untuk diingat.
Di penghujung komentarnya, Adi mengajak kita semua untuk menyambut tahun 2026 dengan cara bermedia sosial yang lebih kepala dingin. Lebih rasional dan objektif.
"Jangan mudah menuding atau memfitnah tanpa basis data yang bisa diukur. Mari bermedia sosial yang sehat," pungkasnya.
"Meski politik selalu ada rumor dan gosip, kita yang bukan aktor politik harus bijak menangkap informasi secara objektif. Salam Politik Santun."
Artikel Terkait
Pemantauan Hilal Awal Ramadhan 1447 H di Sulsel Digelar Besok di Menara Unismuh
Pengamat Apresiasi Penetapan Tersangka Narkoba Mantan Kapolres Bima Kota
Tiga Bocah Tewas Tenggelam di Waduk Lamongan Saat Coba Tolong Teman
Delapan Rumah Hangus Terbakar di Permukiman Padat Makassar, Diduga Dipicu Mainan Api Anak