Isi Hati yang Terluka
Surat wasiat VG, yang sudah diterjemahkan, menyimpan kisah pilu. Isinya begini:
Saya tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup. Dulu saya berhenti bekerja karena hati nurani saya tidak mengizinkan saya membayar pajak kepada Rusia fasis untuk perang ini. Putin telah mengambil segalanya dari saya. Tidak ada hal baik di depan, jadi tidak ada alasan dan kekuatan untuk melanjutkan.
Saya secara resmi memberikan izin untuk mendonorkan organ saya jika hal tersebut legal di Indonesia.
Ada beberapa pakaian yang masih layak di dalam koper untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan, mungkin ke panti asuhan.
Tolong kremasi tubuh saya atau apa pun yang tersisa setelah kemungkinan donor organ di sini, di Bali. Saya ingin abu jenazah saya ditebarkan di laut. Saya telah meninggalkan Rp 60 juta untuk kremasi. Saya yakin jumlah itu cukup. Tidak perlu upacara. Pakaian untuk prosedur jika diperlukan ada di atas tempat tidur.
Tolong beri tahu saudara saya. Terima kasih. Saya minta maaf atas semua kesulitan yang telah saya timbulkan.
Surat itu berakhir dengan permintaan maaf. Sebuah akhir yang menyisakan kesedihan mendalam, jauh dari rumahnya, di sebuah pulau yang mungkin ia harapkan bisa menjadi pelarian.
Artikel Terkait
Doa Imam Khalid Latif Warnai Pelantikan Bersejarah Wali Kota Muslim Pertama New York
Laporan MKMK Ungkap Satu Hakim Absen 29 Persen Sidang
Adi Prayitno Soroti Upaya Adu Domba di Balik Isu Ijazah Jokowi
Menara Putih Damaskus: Titik Temu Nabi Isa dan Pasukan Terakhir