Membedah Hoax HAARP: Mengapa Gempa Aceh Tak Bisa Dikaitkan dengan Senjata Atmosfer

- Jumat, 02 Januari 2026 | 07:00 WIB
Membedah Hoax HAARP: Mengapa Gempa Aceh Tak Bisa Dikaitkan dengan Senjata Atmosfer

Gelombang radio frekuensi tinggi dari HAARP memang kuat, tapi sifatnya cuma memantul atau terserap di permukaan. Ia nggak bisa menembus batuan padat sedalam puluhan kilometer untuk menggerakkan lempeng bumi. Gempa itu kan pelepasan energi dari tekanan lempeng yang terakumulasi ratusan tahun. Kira-kira seperti pegas yang melenting setelah ditekan lama.

Jadi, klaim HAARP bikin gempa itu sama kayak kita meniup permukaan air pakai sedotan, lalu berharap timbul tsunami di dasar kolam. Lagi-lagi, nggak nyambung.

Lalu, ada isu cahaya biru. Banyak hoax yang pake foto fenomena cahaya aneh sebelum gempa sebagai “bukti” senjata frekuensi. Padahal, dalam geologi, fenomena itu sudah dikenal sebagai “Earthquake Lights” (EQL).

Jadi, saat batuan bawah tanah patah karena tekanan ekstrem, muatan listriknya bisa terlepas ke permukaan dan mengionisasi udara. Hasilnya? Cahaya plasma, sering kebiru-biruan. Itu adalah "akibat" dari gempa, bukan penyebabnya. Menganggap cahaya itu sebagai bukti senjata itu sama kelirunya dengan bilang kilatlah yang menciptakan hujan.

Terakhir, masalah hitung-hitungan waktu. Dalam postingan hoax itu disebut ada jeda 14 menit antara cahaya dan gempa, diklaim sebagai “waktu propagasi”. Ini ngawur banget.

Gelombang elektromagnetik merambat dengan kecepatan cahaya: 300.000 kilometer per detik. Jarak dari atmosfer ke pusat gempa paling jauh ratusan kilometer. Kalau memang ada energi yang ditembakkan, ia akan sampai dalam waktu kurang dari sedetik. Jeda 14 menit? Itu terlalu lama dan jelas cuma angka yang dicocok-cocokkan biar kelihatan ilmiah.

Memang, aktivitas manusia seperti peledakan tambang bisa picu getaran kecil. Tapi magnitudonya sangat rendah, nggak sampai bisa menggerakkan lempeng tektonik selebar Aceh. Daerah ini kan berada di jalur Sesar Semangko dan zona subduksi yang sangat aktif. Gempa di sini murni urusan pergerakan lempeng bumi yang sudah menumpuk energi bertahun-tahun, bahkan berabad-abad.

Pada intinya, teori konspirasi HAARP ini cuma memakai istilah-istilah sains yang terdengar keren untuk menutupi ketiadaan logika dasar. Jangan sampai pseudosains macam begini menggerogoti akal sehat kita.

Yang agak ironis, akun-akun penyebar hoax kayak gini bebas saja berkeliaran di media sosial. Sementara yang coba menyampaikan fakta dan nalar, malah gampang kena batas. Ya sudahlah, dunia memang kadang terbalik.


Halaman:

Komentar