Baginya, momen itu lebih berharga daripada sekadar merayakan di keramaian pusat kota.
Antisipasi Darurat, Alat Kejut Jantung Siaga di Malioboro
Pemerintah Kota Yogyakarta ternyata tak main-main dengan antisipasi kesehatan. Selama libur Nataru, sejumlah Automated External Defibrillator (AED) atau alat kejut jantung otomatis disiagakan di titik-titik strategis Malioboro, seperti Teras Malioboro 1 dan dekat Titik Nol.
Menurut seorang sekuriti setempat bernama Ima, alat-alat itu belum sempat digunakan karena tak ada kasus darurat.
“Ini setiap hari di sini. Ini dari pemerintah,” kata Ima.
Langkah ini jadi bukti kesiapan meski harapannya alat itu tak perlu dipakai.
Pantai Sanur Bali Juga Tak Kalah Ramai
Pergi ke pantai selalu jadi pilihan yang tepat. Pantai Sanur di Denpasar, Bali, dipadati wisatawan yang ingin menikmati angin laut dan ombak di awal tahun. Suasana santai terlihat jelas; ada yang main pasir, ada yang sekadar menikmati sore bersama keluarga.
Bunda Putri, pengunjung asal Jember, mengaku sengaja membawa anak-anaknya ke sana.
“Kami ke sini karena anak-anak saja, minta main ke pantai,” katanya.
Alasannya sederhana, tapi justru itulah yang membuat liburan terasa istimewa.
Nostalgia Kusir Andong di Malioboro
Keramaian Malioboro sayangnya belum sepenuhnya membawa berkah bagi semua. Para kusir andong, misalnya, mengeluh bahwa jumlah penumpang mereka belum kembali seperti masa sebelum pandemi melanda.
Marsaya, seorang kusir yang sudah menjalani profesi ini sejak 1990, merasakan betul perbedaannya. Dulu, dalam sehari ia bisa mendapat Rp 500 ribu. Sekarang, di hari libur sekalipun, penghasilannya hanya sekitar Rp 300–400 ribu.
“Zaman dulu lebih lancar dulu (lebih banyak penumpangnya dulu),” kenang Marsaya dengan nada sedikit lirih.
Baginya, keramaian saat ini hanyalah bayangan dari kemeriahan masa lalu yang belum sepenuhnya pulih.
Artikel Terkait
Ledakan di Bar Swiss Tewaskan 40 Orang, Diduga Dipicu Kembang Api di Atas Sampanye
Islah Bahrawi Serang Wacana Pilkada Lewat DPRD: Mundurkan Amanat Reformasi!
Anggota DPR Usul Pemilu 10 Tahun Sekali, Alasannya: Bayar Utang Kampanye
Ironi Mayoritas: Mengapa Figur Religius Selalu Kalah dalam Panggung Politik Indonesia?