Hilirisasi Karet: Jalan Keluar dari Jerat Ekspor Mentah bagi Petani

- Jumat, 02 Januari 2026 | 00:06 WIB
Hilirisasi Karet: Jalan Keluar dari Jerat Ekspor Mentah bagi Petani

Jutaan keluarga di pelosok Sumatera dan Kalimantan menggantungkan hidupnya pada pohon karet. Ini bukan sekadar angka statistik, tapi realitas sehari-hari. Karet memang komoditas strategis kita, dengan dimensi ekonomi dan sosial yang begitu dalam. Lebih dari 85% kebun nasional justru dipegang oleh petani-petani kecil. Jadi, bicara masa depan industri karet ya mau tak mau harus bicara tentang nasib mereka.

Namun begitu, struktur industrinya selama puluhan tahun nyaris tak berubah. Kita masih bertumpu pada ekspor bahan mentah. Karet alam kita pergi ke luar negeri dalam bentuk crumb rubber, TSR, atau lateks pekat. Pola seperti ini jelas menguntungkan sektor hilir di negara tujuan ekspor. Sementara petani kita? Posisinya jadi sangat rentan. Mereka terombang-ambing fluktuasi harga global dengan ruang tawar yang amat tipis.

Di sinilah urgensi hilirisasi muncul. Ini bukan cuma soal membangun pabrik-pabrik baru. Lebih dari itu, hilirisasi adalah upaya mendongkrak struktur rantai nilai agar lebih adil. Dengan industri hilir yang kuat di dalam negeri, peluang menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah akan terbuka lebar. Yang tak kalah penting, petani mendapat perlindungan ekonomi yang lebih baik.

Tanpa langkah ini, petani akan tetap jadi price taker selamanya. Harga di kebun sepenuhnya ditentukan pasar internasional. Kemampuan mereka mengendalikan kualitas atau waktu panen sangat terbatas. Meningkatkan produksi saja tidak cukup untuk menaikkan kesejahteraan. Hilirisasi justru membuka pintu bagi pasar domestik yang lebih stabil, mengurangi ketergantungan pada ekspor.

Stabilisasi harga adalah manfaat lain yang krusial. Industri dalam negeri yang menyerap hasil kebun bisa jadi penyangga saat harga dunia anjlok. Bagi petani kecil dengan margin tipis, stabilitas ini adalah penolong. Gejolak pasar bisa menghantam mereka dengan keras. Jadi, fungsi strategis hilirisasi benar-benar menyentuh keberlanjutan hidup rumah tangga petani.

Tapi hati-hati. Hilirisasi tak boleh jalan sendiri, terpisah dari realitas petani rakyat. Membangun industri besar tanpa kaitan yang jelas justru berpotensi melahirkan ketimpangan baru. Menurut sejumlah pengamat, kuncinya ada pada kemitraan. Skemanya harus adil, transparan, dan berkelanjutan. Petani butuh kepastian serapan dan harga yang wajar.

Di sisi lain, koperasi atau kelompok tani bisa jadi jembatan penting antara kebun dan pabrik.


Halaman:

Komentar