Anak Sulung: Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah yang Tak Terucapkan

- Jumat, 02 Januari 2026 | 03:06 WIB
Anak Sulung: Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah yang Tak Terucapkan

Di sinilah kita harus bisa bedain antara niat dan akibat. Bisa jadi orang tua bermaksud mendidik kemandirian, tapi tanpa sadar malah menumpuk beban emosional pada satu anak. Ketika sistem peran dalam keluarga berjalan tanpa dialog, ya begini jadinya. Anak sulung jadi dewasa sebelum waktunya, sekaligus kehilangan kesempatan untuk jadi anak sepenuhnya.

Esai ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, ya. Tujuannya cuma satu: membuka ruang untuk refleksi. Keluarga itu sistem yang harus terus belajar. Mengakui bahwa anak sulung bisa lelah bukan berarti meniadakan perannya. Justru sebaliknya, itu bentuk penghargaan. Memberi dia ruang untuk bilang, "Aku capek," itu wujud kepedulian, bukan tanda keluarga gagal.

Membicarakan hal ini juga berarti mengakui satu hal sederhana: setiap anak punya kebutuhan emosional yang sama pentingnya. Kedewasaan nggak seharusnya dipaksakan cuma karena urutan kelahiran. Tanggung jawab juga nggak boleh menghapus hak mereka untuk didengar dan dipahami.

Lantas, apa yang bisa dilakukan? Perubahan drastis nggak diperlukan. Percakapan kecil yang jujur di rumah saja sudah cukup. Orang tua bisa mulai dengan pertanyaan sederhana, "Kamu baik-baik saja?" atau "Apa yang kamu rasakan?" Pertanyaan yang kelihatan sepele, tapi punya arti besar buat anak yang terbiasa menahan segalanya.

Anak sulung juga berhak tahu bahwa minta bantuan itu bukan aib. Dia boleh lelah. Boleh salah. Boleh, sesekali, memilih dirinya sendiri. Kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan menahan segalanya, tapi pada keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri.

Pada akhirnya, anak sulung bukan berarti yang paling kuat. Dia cuma yang paling dulu belajar menahan. Dan barangkali, sudah waktunya keluarga memberi ruang, agar dia nggak harus terus melakukannya sendirian.


Halaman:

Komentar