Bagi banyak orang di seluruh dunia, malam pergantian tahun adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu. Biasanya, perayaan dimulai tepat saat jarum jam menunjuk pukul 00.00, menandai transisi dari tanggal 31 Desember ke 1 Januari. Tapi, pernahkah terpikir bahwa waktu tepatnya perayaan itu ternyata tidak seragam?
Nyatanya, setiap negara bahkan kota bisa saja menyambut tahun baru pada jam yang berbeda-beda. Semua ini bermuara pada sistem zona waktu yang membelah bumi menjadi 24 bagian, dengan patokan utama di Coordinated Universal Time (UTC).
Pembagiannya berkisar dari UTC-12, yang tertinggal 12 jam dari patokan, hingga UTC 14 yang justru lebih cepat 14 jam. Akibatnya, selisih waktu antara dua titik di bumi bisa mencapai 26 jam! Cukup ekstrem, bukan?
Nah, karena itulah selalu ada wilayah yang lebih dulu menyalakan kembang api, sementara yang lain masih bersiap-siap.
Pulau Kecil yang Jadi Juara Duluan
Lantas, mana saja tempat yang paling pertama merayakannya? Untuk menjawab rasa penasaran ini, kami melakukan penelusuran. Dengan bantuan kode Python, kami mengumpulkan data zona waktu ibu kota negara, lalu mengonversinya ke Waktu Indonesia Barat (WIB) agar lebih mudah dibandingkan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, gelar "yang pertama" jatuh pada Pulau Kiritimati di Kiribati. Pulau berpenduduk sekitar 7.000 jiwa ini berada di zona UTC 14, atau tujuh jam lebih cepat dari WIB. Artinya, sementara kita di Indonesia baru pukul 5 sore di tanggal 31 Desember, penduduk Kiritimati sudah bersulang menyambut tahun baru.
Satu jam kemudian, giliran empat kota lain yang merayakan. Nuku'alofa di Tonga, Apia di Samoa, Funafuti di Tuvalu, dan Wellington di Selandia Baru (yang sedang pakai NZDT) berganti tahun saat jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Keempatnya sama-sama berada di zona UTC 13.
Tak ketinggalan, sejumlah kota di Oseania juga termasuk kelompok yang merayakan lebih awal. Mereka tersebar di zona UTC 12 dan UTC 11.
UTC 12
- Suva, Fiji
- Tarawa, Kiribati
- Majuro, Kepulauan Marshall
- Yaren, Nauru
UTC 11
- Honiara, Kepulauan Solomon
- Nouméa, Kaledonia Baru
- Palikir, Mikronesia
- Canberra, Australia (AEDT)
Perlu dicatat, Selandia Baru dan sebagian Australia punya aturan waktu musim panas. Saat artikel ini dibuat, mereka sedang menerapkannya. Jadi, Canberra dan sekitarnya pakai AEDT (UTC 11), sementara Wellington pakai NZDT (UTC 13). Nanti saat musim dingin, mereka akan kembali ke zona standarnya.
Yang Paling Akhir: Dari Pulau Sunyi hingga Kota Ramai
Di sisi lain, ada juga yang harus bersabar paling lama. Beberapa wilayah di Benua Amerika, khususnya di kawasan Amerika Latin, adalah kelompok penutup perayaan global.
Rekor sebagai yang paling akhir dipegang oleh Baker Island, sebuah pulau tak berpenghuni milik Amerika Serikat yang terletak di zona UTC-12. Pulau ini baru memasuki tahun baru pada 1 Januari pukul 19.00 WIB sungguh jeda yang jauh dari Kiritimati.
Tak jauh berbeda, ibu kota Samoa Amerika, Pago Pago, juga termasuk yang belakangan. Berada di zona UTC-11, kota berpenghuni ini baru berganti tahun pada pukul 18.00 WIB. Jadi, belasan ribu warganya boleh disebut sebagai penyambut tahun baru paling akhir di dunia yang berpenduduk.
Beberapa kota besar pun masuk dalam kelompok yang merayakan belakangan, tepatnya di zona UTC-6. Mereka baru bersorak pada 1 Januari pukul 13.00 WIB. Beberapa di antaranya adalah:
- Mexico City, Meksiko
- Guatemala City, Guatemala
- San Salvador, El Salvador
- Tegucigalpa, Honduras
- Managua, Nikaragua
- San José, Kosta Rika
- Belmopan, Belize
Begitulah. Dari sebuah pulau kecil di Pasifik hingga kota metropolitan di Amerika, setiap tempat punya waktunya sendiri untuk bersukaria. Zona waktu tak hanya sekadar angka di peta, tapi juga penentu kapan sorak-sorai kegembiraan itu bergema mengelilingi bumi.
Artikel Terkait
Yenny Wahid: Hormati Perbedaan Penetapan Awal Ramadan
Arab Saudi Siapkan Ruang Iktikaf di Atap Masjid Nabawi Sambut Ramadan
Kemenag Sulsel dan BMKG Pantau Hilal Ramadan dari Tiga Titik
WIZ Bone Siapkan 1.000 Paket Sembako untuk Pekerja Harian Jelang Ramadan