Afghanistan: Lima Tahun Tanpa Dentum Kembang Api di Malam Tahun Baru

- Kamis, 01 Januari 2026 | 07:20 WIB
Afghanistan: Lima Tahun Tanpa Dentum Kembang Api di Malam Tahun Baru

Afghanistan mungkin satu-satunya negara di dunia yang sunyi dari hingar-bingar perayaan tahun baru. Tidak ada pesta kembang api, tidak ada hitungan mundur, bahkan perayaan tradisional Nowruz pun ikut dilarang. Yang menarik, dalam keheningan itu, banyak warganya tetap menjalani hidup dengan tenang mereka bahagia dengan caranya sendiri.

Semua ini berawal ketika Taliban kembali memegang kendali pada Agustus 2021. Sejak saat itu, segala bentuk perayaan tahun baru, baik yang bersifat internasional maupun tradisional Persia, dianggap tak sejalan dengan syariat Islam. Jadi, ya, dilarang total.

Menurut sejumlah saksi di Kabul, suasana pergantian tahun sekarang lebih mirip hari biasa. Toko-toko tutup lebih awal, jalanan sepi, yang terdengar hanya suara azan atau dentuman sesekali dari kejauhan bukan kembang api, tapi mungkin suara lain. Keadaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Taliban secara resmi menghapus Nowruz dari kalender nasional. Bagi mereka, perayaan itu dianggap membawa unsur budaya pra-Islam yang tidak boleh dilestarikan.

Kalau dirunut, sejak akhir 2021 hingga awal 2026, Afghanistan sudah lima kali melewati malam tahun baru dalam hening. Tidak ada acara publik, tidak ada kumpul-kumpul resmi. Warga yang nekat merayakan secara sembunyi-sembunyi bisa berhadapan dengan risiko yang tidak main-main.

Di sisi lain, pemerintah Taliban juga mengklaim telah memberantas prostitusi hingga ke akar-akarnya. Mereka menyatakan ini sebagai bagian dari penegakan moral berdasarkan tafsiran mereka terhadap hukum Islam. Bagi sebagian warga, situasi ini memang membawa rasa aman dari sudut pandang tertentu, meski tentu saja banyak juga yang merasa kehilangan kebebasan.

Jadi begitulah kenyataannya. Sebuah negara tanpa tahun baru, tanpa pesta, tanpa gemerlap. Tapi kehidupan terus berjalan. Bahagia atau tidak, itu sangat tergantung pada siapa Anda bertanya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar