Pemuda Tahanan Meninggal di Medaeng, Berat Badan Anjlok Drastis

- Kamis, 01 Januari 2026 | 07:00 WIB
Pemuda Tahanan Meninggal di Medaeng, Berat Badan Anjlok Drastis

Seorang pemuda bernama Alfarisi bin Rikosen (21) meninggal dunia di dalam Rumah Tahanan Kelas I Medaeng, Surabaya, Selasa lalu. Ia sebelumnya ditangkap saat aksi unjuk rasa di Gedung Grahadi Surabaya pada bulan Agustus. Kabar duka ini langsung menyebar, memantik kembali sorotan terhadap kondisi lembaga pemasyarakatan kita.

Informasi soal kepergian Alfarisi pertama kali diterima oleh KontraS Surabaya dari keluarganya, sekitar pukul setengah sembilan pagi.

“Informasi terkait meninggalnya Alfarisi diterima KontraS Surabaya dari pihak keluarga pada pukul 08.30 WIB,”

Demikian disampaikan Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, lewat unggahan Instagram organisasinya.

Fatkhul tak ragu menyebut tragedi ini sebagai cermin suram dari sistem penahanan di Indonesia. Baginya, ini adalah bukti nyata kegagalan negara. Gagal melindungi hak hidup, gagal menjamin perlakuan manusiawi bagi mereka yang kebebasannya dirampas.

Yang cukup mencengangkan, selama masa penahanannya, berat badan Alfarisi disebut merosot drastis. Bisa mencapai 30 hingga 40 kilogram. Angka yang sulit dibayangkan. Kondisi itu, menurut Fatkhul, jelas mengindikasikan tekanan psikis yang luar biasa berat. Dan yang lebih parah, kuat diduga standar minimum penahanan serta layanan kesehatan di rutan itu jauh dari memadai.

“Situasi tersebut secara nyata bertentangan dengan Standar Minimum PBB untuk perlakuan terhadap narapidana yang mewajibkan negara memastikan pemenuhan hak atas kesehatan fisik dan mental bagi setiap tahanan tanpa diskriminasi,”

tegas Fatkhul.

Ironisnya, keluarga sempat menjenguk Alfarisi beberapa hari sebelumnya, tepatnya 24 Desember 2025. Saat pertemuan terakhir itu, Alfarisi dilaporkan tidak menunjukkan tanda-tanda keluhan kesehatan yang serius. Keadaannya terlihat biasa saja.

Namun begitu, nasib berkata lain. Enam hari setelah kunjungan keluarga, tepatnya pada 30 Desember pukul enam pagi, Alfarisi menghembuskan napas terakhir di sel tahanannya. Menurut kesaksian rekan satu sel, sebelum meninggal, Alfarisi sempat mengalami kejang-kejang.

Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke kampung halamannya di Sampang, Madura, untuk dimakamkan di pemakaman umum setempat. Sebuah akhir perjalanan yang pilu, meninggalkan tanda tanya besar dan duka yang mendalam bagi keluarganya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar