Kekhawatiran publik ini bukannya tanpa alasan. Kemampuan politik Teddy Indra Wijaya sendiri masih diselimuti tanda tanya. Pengalamannya dalam membaca dinamika elite, mengelola konflik kepentingan yang rumit, atau memahami kompleksitas sosial Indonesia belum benar-benar teruji di ruang publik. Tapi, justru di pundaknyalah peran strategis sebagai "telinga kekuasaan" itu diletakkan.
Ini bukan persoalan merendahkan individu tertentu. Ini lebih pada soal arsitektur kekuasaan. Negara sebesar Indonesia, dengan penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan ribuan persoalan struktural yang saling bertaut, tidak seharusnya menyaring realitasnya hanya melalui satu orang. Siapapun dia.
Pertanyaannya sederhana, tapi mendasar: apakah Presiden Prabowo benar-benar mendengar suara rakyat Indonesia secara utuh, atau hanya mendengar versi realitas yang disampaikan Teddy? Dalam demokrasi, kecurigaan publik bukanlah ancaman. Itu adalah alarm peringatan. Dan saat ini, alarm itu berbunyi cukup keras untuk didengarkan, bukan untuk diabaikan begitu saja.
Artikel Terkait
Dewa United Kalahkan PSIM 1-0 Berkat Penalti di Pekan Ke-26 ISL
Veto Rusia, Tiongkok, dan Prancis Ancam Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz
KPK Buka Kemungkinan Panggil Anggota Pansus Haji DPR Terkait Kasus Kuota
Liga Arab Dukung Resolusi DK PBB untuk Amankan Selat Hormuz