Faktor paling krusial bagi kesuksesan belajar adalah kualitas interaksi guru-murid, bukan ketebalan laporan administrasi.
Lalu bagaimana dengan siswanya? Jatuhnya nilai TKA ini juga erat kaitannya dengan motivasi. Bernard Weiner pernah bilang, siswa akan bersungguh-sungguh jika mereka melihat hubungan yang jelas antara usaha dan hasil. Nah, TKA ini problematik. Hasilnya tidak dipakai untuk kelulusan atau seleksi masuk sekolah lanjutan. Alhasil, banyak yang menganggapnya sekadar formalitas belaka. Tesnya berskala nasional, tapi urgensi di tingkat lokal hampir nol besar.
Di sini ironinya muncul. Pemerintah menginginkan data berkualitas untuk laporan internasional, misalnya untuk dibandingkan dengan skor PISA. Tapi di tingkat sekolah, siswa justru diberi pesan untuk tidak terlalu serius karena nilainya "tidak pengaruh". Kita ingin angka tinggi, tapi menciptakan sistem yang sama sekali tidak mendorong keseriusan. Kontradiktif? Sangat.
Yang tak kalah memilukan, kesenjangan masih lebar. Sekolah di kota besar sudah membahas AI dan coding, sementara banyak sekolah di daerah 3T masih berjuang dengan ketersediaan listrik dan buku paket. Standar penilaiannya disamaratakan, fasilitasnya jauh berbeda. Wajar kalau hasilnya timpang.
Pada akhirnya, laporan TKA 2025 ini lebih dari sekadar rapor siswa. Ini adalah rapor sistem pendidikan kita. Bukan semata soal anak-anak yang belum mampu, tapi lebih tentang ruang kelas yang kehilangan rohnya untuk mendidik.
Masalah beginian tak akan selesai dengan ganti istilah atau luncurkan aplikasi baru. Yang dibutuhkan sebenarnya sederhana, meski eksekusinya sulit: kurikulum yang stabil, memberi ruang bernapas bagi guru, dan sistem evaluasi yang benar-benar berarti bagi siswa. Sebab, bila nilai terus anjlok seperti ini, murid-murid bukanlah pihak pertama yang patut disalahkan.
Pertanyaan mendasarnya justru ini: yang bermasalah itu ruang kelasnya, atau cara kita mengelola dan memaknainya?
Artikel Terkait
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
Gattuso, Buffon, dan Gravina Mundur Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan
PSSI Tegaskan Semua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Sah Secara Hukum