Kabar baiknya, regenerasi bukan masalah utama. Minat anak muda untuk terlibat masih ada. Itu modal berharga. Tapi minat saja tidak cukup, kan?
Yang justru jadi pekerjaan rumah serius adalah soal pembinaan nilai dan disiplin. Reyog itu bukan cuma adu kekuatan atau tontonan yang meriah. Ada laku budaya di dalamnya, lengkap dengan etika dan tanggung jawab yang harus dijaga.
Di sisi lain, urusan perawatan juga nggak bisa dianggap enteng. Kostum dan propertinya itu butuh biaya besar dan perhatian rutin. Usaha persewaan kostum yang dijalani warga seperti Bu Maming adalah salah satu siasat untuk menopang biaya itu. Sederhana, tapi berarti. Dari sini kita bisa lihat, pelestarian budaya seringkali bergantung pada inisiatif warga yang gigih, bukan pada sistem pendukung yang serba terstruktur.
Pada intinya, Reyog Singo Mangkujoyo mengajarkan satu hal: menjaga kesenian tradisi di kota besar bukan cuma soal mempertahankan jadwal pentas atau membanggakan sejarahnya. Yang lebih penting adalah merawat nilai-nilai di dalamnya, menjaga disiplin berkesenian, dan memastikan benang merah antargenerasi tidak putus.
Selama masih ada yang merawat, yang mau belajar, dan kesadaran bahwa reyog adalah identitas bersama, kesenian ini akan tetap hidup. Hiruk-pikuk Surabaya bukan halangan.
Jadi, ini bukan sekadar kisah kelompok seni yang bertahan sejak 1951. Ini adalah contoh nyata bagaimana tradisi hidup lewat hal-hal yang mendasar: pengelolaan yang jelas, perawatan properti, pembinaan nilai, dan tentu saja, keterlibatan warga yang tulus.
Artikel Terkait
Kevin Diks Jadi Sorotan Usai Insiden Penalti yang Tentukan Kekalahan Indonesia
Nenek di Bondowoso Tewas Tersambar Petir di Dalam Rumah
Angin Puting Beliung Rusak RSUD dan Puluhan Rumah di Jombang
Timnas Indonesia Takluk Tipis 0-1 dari Bulgaria di Final FIFA Series 2026