Seorang penjual keliling di Cirebon membawa balitanya berkeliling setiap hari. Kehidupan mereka terlihat berat. Namun, nasib mereka berubah setelah bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut sejumlah saksi, penjual itu menjajakan aneka barang murah, dari mainan anak hingga peralatan rumah tangga. Sambil berjualan, ia juga mengasuh anaknya yang masih balita. Rupanya, sang istri ibu dari anak tersebut tidak bisa mendampingi karena harus bekerja jauh di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi atau KDM, menceritakan kisahnya.
“Punya anak terus istrinya pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia, jadi TKI sudah dua bulan. Anak diurus sama bapak karena terjerat Bank MBK Rp 8 juta, Bank Emok,”
Istilah ‘Bank Emok’ sendiri merujuk pada rentenir atau pemberi pinjaman dengan bunga yang seringkali mencekik. Jeratan utang itulah yang diduga memaksa keluarga ini terpisah.
Melihat kondisi itu, Kang Dedi tak tinggal diam. Ia langsung menawarkan pekerjaan yang lebih baik kepada sang ayah.
“Mulai besok kerja kuli nyangkul di tempat saya, lumayan Rp 150 ribu sehari daripada ini,”
Lalu, bagaimana dengan si anak?
Kang Dedi punya solusi. Ia berjanji akan menyediakan tempat tinggal sementara.
“Nanti anaknya tinggal di sini dulu sama anaknya yang perempuan,”
Rencananya tidak berhenti di situ. Penjual yang berasal dari Desa Kertamukti, Purwakarta, ini mengaku telah mendapat janji kerja yang lebih permanen.
“Bulan Januari, kita persiapkan untuk kerja tenaga kebersihan jalan provinsi yang lagi ramai, Jembatan Pamulihan,”
Sebuah pertemuan yang singkat, tapi dampaknya bisa sangat berarti. Dari seorang penjual keliling yang berjuang sendirian, kini ia mendapat peluang untuk membangun hidup yang lebih layak untuk dirinya dan anaknya.
Artikel Terkait
Kadin Sultra Bagikan 12.000 Paket Sembako Murah Jelang Ramadan
IPK Indonesia Anjlok ke 34, Persepsi Dunia Usua Jadi Pemicu Utama
14 Februari: Tak Hanya Valentine, Juga Hari Kesadaran Cacat Jantung dan Pemberian Buku
Pengamat Kritik Wacana Perluasan Peran TNI dalam Revisi UU Terorisme