Abu Ubaidah: Suara yang Takkan Padam di Tengah Reruntuhan Gaza

- Selasa, 30 Desember 2025 | 06:00 WIB
Abu Ubaidah: Suara yang Takkan Padam di Tengah Reruntuhan Gaza

Air mata ini jatuh lebih dulu daripada kata-kata yang kutulis. Ada sesuatu di dalam diriku yang hancur, bahkan mungkin mati untuk selamanya.

Dan ini bukan cuma perasaanku sendiri. Coba tanyakan pada setiap warga Gaza yang terbebani tragedi, atau pada siapa saja di Palestina yang sudah terlalu sering menelan pil pahit kehilangan. Kekecewaan karena dunia memilih bungkam, itu rasa yang sama.

Abu Ubaidah. Di hadapan duka atas kepergianmu, kata-kata terasa begitu tak berdaya. Mereka tersandung, gagap, saat berusaha menyentuh kemuliaan posisimu.

Lalu, bagaimana caranya meratapi sosok yang sudah melampaui batas deskripsi biasa? Mustahil meringkas kisah sebesar ini dalam beberapa kalimat. Karena engkau bukan sekadar individu. Engkau adalah kisah sebuah umat, suara dari rasa sakitnya, sekaligus raut wajah martabatnya di tengah himpitan pengepungan yang tak berkesudahan.

Namun begitu, satu hal yang pasti: engkau bukan nama yang akan lewat begitu saja. Bukan pidato sesaat yang lalu terlupakan.

Engkau adalah keyakinan yang mengkristal di dalam hati. Ketenangan yang justru lahir dari balik reruntuhan. Bukti nyata bahwa rakyat ini, sedalam apa pun lukanya, masih punya kekuatan untuk tegak berdiri.

Kau telah menyuarakan semua yang sesak di dada kami. Kau memikul beban yang terlalu berat untuk kami angkat sendiri. Dan kau menempuh jalan terjal itu atas nama jutaan orang tanpa pretensi, tanpa pernah mengharap balasan atau pujian.

Maka, kami takkan meratap hari ini. Rasanya tak pantas. Ratapan itu untuk mereka yang benar-benar tiada. Sedangkan engkau, kau akan tetap hidup. Kau kekal sebagai jejak dalam langkah kami, sebagai sikap dalam ingatan kolektif, dan sebagai sebuah makna yang tertanam dalam jiwa.

Kata-katamu akan terus bergema. Bayanganmu akan jadi saksi bisu atas zaman yang berusaha mematahkan kami, tapi gagal.

Suaramu? Itu akan tetap menjadi cambuk di leher musuh-musuh Allah. Dan bagi kami, saudaramu di kota yang terluka ini, suaramu adalah penawar.

(Rashdul Maidan)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar