Titiek Soeharto Apresiasi Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Pawai Imlek Sudirman

- Rabu, 18 Februari 2026 | 01:45 WIB
Titiek Soeharto Apresiasi Harmoni Budaya Betawi dan Tionghoa di Pawai Imlek Sudirman

Pawai Imlek di kawasan Sudirman, Selasa lalu, benar-benar jadi tontonan yang meriah. Bukan cuma gemerlap lampion dan barongsai yang menari, tapi juga ada sentuhan khas Betawi yang bikin suasana makin semarak. Perpaduan dua budaya itu tampak begitu natural, seolah sudah menyatu sejak lama.

Menurut sejumlah saksi, iring-iringan itu menampilkan ondel-ondel berjalan berdampingan dengan singa-singa warna-warni. Suara rebana dan gambang kromong mengalun, bersahutan dengan tabuhan gong dan drum khas Tionghoa. Suasananya hidup, penuh tawa, dan tentu saja, warna merah di mana-mana.

Melihat fenomena itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, tak bisa menyembunyikan apresiasinya. Perempuan yang lebih dikenal dengan panggilan Titiek Soeharto ini merasa acara semacam ini adalah cerminan Indonesia sebenarnya.

“Inilah keberagaman yang nyata. Bukan sekadar wacana, tapi hidup dan dirayakan bersama-sama di tengah masyarakat,” ujarnya.

Memang, kalau diamati, pawai itu sukses menampilkan wajah Jakarta yang plural. Di satu sisi, tradisi Imlek dihormati dan dirayakan dengan khidmat. Di sisi lain, budaya lokal hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Semuanya berbaur tanpa ada yang merasa terpinggirkan.

Acara yang berlangsung meriah itu, menurut Titiek, memberikan pesan penting. Keragaman bukanlah halangan, justru kekuatan. Ia berharap momentum seperti ini bisa terus dilestarikan, menjadi contoh bagi daerah lain. Bagaimanapun, harmoni dalam perbedaan itulah yang selama ini menjadi perekat bangsa ini.

Gelak tawa penonton, sorak-sorai, dan iringan musik yang rancak sepertinya mengamini hal tersebut. Perayaan bukan lagi tentang satu kelompok tertentu, melainkan milik bersama. Sebuah pertunjukan budaya yang sederhana, namun maknanya sangat dalam.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar