Prabowo Pamer Uang Rp 6,6 Triliun, Tapi Pelaku Kejahatannya Hilang

- Senin, 29 Desember 2025 | 05:25 WIB
Prabowo Pamer Uang Rp 6,6 Triliun, Tapi Pelaku Kejahatannya Hilang

Drama! Uang Sitaan Dipamerkan, Tapi Pelakunya Di Mana?

Gunungan uang senilai Rp 6,6 triliun itu ditumpuk rapi di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Upacara penyerahan ke negara berlangsung di Kejaksaan Agung, Rabu lalu. Acaranya resmi, khidmat. Tapi bagi Sutoyo Abadi, koordinator Kajian Politik Merah Putih, momen itu bukan prestasi. Itu adalah sebuah pertunjukan.

Menurutnya, yang dipentaskan adalah drama rekayasa citra. "Ini pertunjukan bahwa pemerintah telah bekerja, hukum telah berjalan," ujarnya dalam sebuah artikel, Selasa (29/12/2025).

"Yang terekam hanya representasi visual, pencitraan belaka. Eksistensi pelaku kejahatannya tetap jalan di lorong gelap yang tidak tersentuh."

Pertanyaannya sederhana tapi menggelitik: uang sebanyak itu didapat dari kejahatan apa? Siapa pelakunya? Nama-nama tersangkanya di mana? Semua senyap. Tak ada informasi yang jelas. Yang ada cuma tumpukan uang dan seremonial megah untuk konsumsi publik.

Nah, di sisi lain, Sutoyo melihat pola ini mirip dengan teori "Masyarakat Tontonan" dari Guy Debord. Dalam masyarakat modern, hubungan sosial sering digantikan oleh hubungan antara manusia dengan gambar. Citra jadi dominan, realitas jadi kabur.

"Hubungan antar manusia digantikan oleh hubungan antara manusia dan gambar," terang Sutoyo. "Ini menciptakan kepalsuan. Kita jadi teralienasi dari realitas yang sebenarnya."

Dia menilai, peristiwa nyata kini sering diganti oleh dokumentasinya. Bukan lagi "apa yang terjadi", melainkan "apa yang di-posting dan dipertontonkan". Drama tumpukan uang itu contoh sempurna. Tujuannya? Untuk membuat publik pasif, menerima begitu saja bencana kerusakan hutan yang sebenarnya terus terjadi.

"Itu hanya tontonan," tambahnya tegas. "Agar rakyat pada posisi menyerah, pasrah terhadap bencana yang menimpanya."

Lebih jauh, Sutoyo menilai pemerintah sengaja bersembunyi di balik realitas palsu ini. Mereka ingin terlihat eksis, padahal sebenarnya tak berdaya melawan kekuatan kapitalis yang menguras sumber daya alam secara membabi buta. Upacara serah terima uang sitaan, baginya, hanyalah alat pengabur keadaan.

Dan di sinilah kritiknya menjadi lebih tajam. Dia menyebut rezim Prabowo tak beda dengan pendahulunya.

"Presiden Prabowo masih bekerja persis sama dengan model cara Jokowi. Mutlak harus dihentikan dan dibongkar tipuan dan kepalsuannya."

Semua pencitraan, semua rekayasa palsu, harus dibongkar. Itu intinya. Setiap foto atau video seremonial seperti penyerahan uang 6,6 triliun itu sudah disaring dan dipoles. Hasilnya? Tipuan yang mutlak harus diakhiri.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar