Pukul tujuh lebih tiga puluh malam, sebuah foto terpampang di akun Instagram utama seorang mahasiswa. Gambarnya estetik, captionnya penuh motivasi. Dia tersenyum lebar di sebuah kafe yang bersih dan minimalis, bagai potret hidup yang sempurna. Tapi cuma selang sepuluh menit, di akun keduanya, muncul unggahan yang sama sekali berbeda. Hitam-putih, tanpa filter. Tidak ada senyum. Hanya bantal yang basah dan satu kalimat pendek: "Capek banget, pengen menyerah."
Fenomena dua wajah ini bukan cuma tren digital belaka. Di balik layar, ada jutaan anak muda Gen Z yang sebenarnya sedang terlibat dalam sebuah pertunjukan besar: pencarian jati diri. Kita terjebak dalam dualitas yang melelahkan. Di satu sisi, jadi sosok ideal yang disukai algoritma. Di sisi lain, di akun rahasia, kita menjadi sosok yang rapuh namun jujur.
Menurut sejumlah ahli, ketegangan antara kedua akun ini sebenarnya adalah alarm psikologis. Ini sangat selaras dengan pemikiran Carl Rogers soal konsep diri. Rogers bilang, setiap orang punya ideal self versi sempurna yang kita idamkan dan organismic experience, yaitu pengalaman hidup kita yang sesungguhnya. Nah, media sosial justru memperlebar jarak antara keduanya. Kita jadi bisa mengkurasi diri dengan sangat selektif.
Ketika kita terlalu fokus memoles akun utama agar tampak sempurna, kita mengalami apa yang disebut Rogers sebagai incongruence. Bayangkan seperti memakai sepatu yang kekecilan. Kelihatannya bagus, tapi langkahnya sakit. Yang penting dipahami, baik akun utama maupun akun kedua itu sama-sama bagian dari diri kita. Bukan soal yang mana topeng atau yang mana asli. Keduanya cuma ruang berbeda untuk mengekspresikan aspek kepribadian yang memang sudah ada, cuma disesuaikan dengan audiensnya aja.
Lalu, kenapa kita lebih lega curhat di akun rahasia?
Jawabannya ada dalam teori Erving Goffman tentang dramaturgi. Menurutnya, kehidupan sosial itu ibarat panggung. Akun utama adalah front stage, panggung depan tempat kita tampil sesuai ekspektasi orang. Sementara second account itu backstage, ruang belakang panggung. Di sanalah kita bisa melepas "kostum" dan menunjukkan sisi yang tidak dipoles.
Fenomena ini juga terkait dengan apa yang disebut Danah Boyd sebagai context collapse keruntuhan konteks. Di akun utama, audiens kita campur aduk: keluarga, dosen, teman, kenalan kerja. Kita merasa harus menjaga citra tertentu. Akun kedua memberi kita audience segregation. Pengikutnya terbatas dan terpilih, jadi kita lebih bebas berekspresi tanpa takut dihakimi.
Tapi hati-hati. Jika kesenjangan antara dua dunia ini terlalu besar dan berlangsung terus, bisa-bisa kita malah mengalami self-alienation. Kita jadi bingung, sebenarnya diri kita yang mana sih?
Jebakan validasi juga berperan besar. Kita sering terjebak dalam conditional positive regard penerimaan yang bersyarat. Rasanya, kita baru akan diterima kalau punya prestasi atau penampilan yang mentereng. Likes dan komentar positif jadi patokan harga diri. Padahal, kata Rogers, kebutuhan dasar manusia justru unconditional positive regard: diterima apa adanya. Karena jarang dapat itu di panggung utama, kita kabur ke akun kedua, berharap dapat validasi yang lebih tulus dari segelintir sahabat.
Masalah utamanya bukan pada jumlah akun yang kita punya. Ini soal chronic self-discrepancy, kesenjangan diri yang kronis. Kalau jarak antara diri ideal dan pengalaman nyata kita terlalu lebar sampai bikin cemas atau depresi terus-menerus, dualitas yang awalnya strategi adaptif bisa berubah jadi pola yang merusak kesehatan mental.
Sebagai bagian dari Gen Z, kita perlu sadar. Kesempurnaan di layar itu ilusi, dan melelahkan untuk dipertahankan. Jadi, jangan merasa bersalah untuk menunjukkan sisi yang lebih nyata. Keautentikan itu kunci, tapi bukan berarti kita harus membuka semua tanpa filter. Integrasi kepribadian dimulai saat kita berusaha mempersempit kesenjangan yang menyakitkan antar berbagai versi diri kita, bukan dengan menghapus semua perbedaan yang wajar itu.
Pada akhirnya, media sosial cuma panggung. Bukan cermin yang menentukan nilai kita. Terus-terusan memoles topeng digital cuma akan bikin kita asing dengan wajah sendiri. Mungkin sudah waktunya untuk sedikit lebih berani jujur. Sebab, kematangan kepribadian tidak diukur dari seberapa banyak orang yang menyukai versi "ideal" kita, tapi dari seberapa berani kita menerima dan mencintai versi "asli" kita yang mungkin berantakan dan tidak estetik sekalipun. Di dunia yang mendewakan kesempurnaan, menjadi otentik justru adalah bentuk keberanian paling membebaskan.
Artikel Terkait
Sekretaris DPD II Golkar Soppeng Yahya Daud Meninggal Dunia
Bupati Bone Resmikan Rumah Brigade Pangan di Pesta Panen Dusun Tuan Lewo
Mantan Menag Yaqut Beri Klarifikasi ke BPK Soal Dugaan Kerugian Negara dari Kuota Haji
Pemerintah Intervensi di Hulu untuk Stabilkan Harga Ayam dan Telur