"Jokowi dikaitkan dengan sosok yang berubah secara total. Tak ada bedanya dengan politisi-politisi lain yang punya intensi soal kepentingan politik pribadi dan keluarga besarnya," ungkap Adi.
Ironinya kini kentara. Anies Baswedan, mantan juru bicara, justru berhadapan dengannya. Sebaliknya, Prabowo Subianto rival di Pilpres 2014 dan 2019 kini menjadi sekutu dan menyebut Jokowi sebagai "guru politik". Dinamika politik Indonesia memang berputar cepat.
"Hari ini dipuji, besok dihujat. Hari ini kawan, besok musuh. Hari ini musuh, besok menjadi kawan. Itulah politik Indonesia," kata Adi, menggambarkan situasi yang serba berubah.
Pengamat yang dikenal dengan tagar "Politik Santun" ini menilai fenomena ini lumrah dalam sistem presidensial multipartai ala Indonesia. Semua bisa berubah total dalam sekejap.
"Gampang memuji, gampang juga membenci. Gampang berkawan, tapi gampang juga bermusuhan. Makna politik di Indonesia itu biasa-biasa saja," tegasnya.
Inilah yang disebutnya jalan politik moderat, atau "politik santun-santun". Perjalanan 13 tahun sejak gorong-gorong itu menjadi cermin pahit: sebuah citra politik bisa bertransformasi secara dramatis, dari simbol kerakyatan yang disanjung, menjadi sasaran empuk kritik dari mereka yang dulu paling lantang membelanya.
Artikel Terkait
Kevin Diks Jadi Sorotan Usai Insiden Penalti yang Tentukan Kekalahan Indonesia
Nenek di Bondowoso Tewas Tersambar Petir di Dalam Rumah
Angin Puting Beliung Rusak RSUD dan Puluhan Rumah di Jombang
Timnas Indonesia Takluk Tipis 0-1 dari Bulgaria di Final FIFA Series 2026