Blusukan ke Gorong-Gorong Hanya Kenangan: Citra Kerakyatan Jokowi Kini Dikritik Mantan Pendukung

- Minggu, 28 Desember 2025 | 10:50 WIB
Blusukan ke Gorong-Gorong Hanya Kenangan: Citra Kerakyatan Jokowi Kini Dikritik Mantan Pendukung

Sudah tiga belas tahun berlalu sejak aksi legendaris Jokowi masuk gorong-gorong. Citra politik kerakyatannya, yang dulu begitu dipuja, kini berubah drastis. Yang menarik, kritik paling tajam justru datang dari mantan pendukungnya sendiri.

Fenomena perubahan persepsi publik ini diungkap pengamat politik Adi Prayitno dalam kanal YouTube-nya, Sabtu lalu. Menurutnya, gaya politik Jokowi yang identik dengan kesederhanaan dan blusukan, kini seolah sirna.

"Jokowi yang sangat identik dengan kerakyatan, politik yang sederhana, politik blusukan yang kemudian masuk gorong-gorong itu sirna," tegas Adi.

Ia melihat banyak pihak yang dulu mendukung total, kini berbalik 180 derajat. Alasannya sederhana: Jokowi dianggap tak lagi sesuai dengan bayangan mereka.

Memang, dulu Jokowi berhasil menghancurkan stigma elit politik yang kaku. Gaya blusukannya turun ke pasar, masuk gorong-gorong saat banjir menjadi magnet kuat. Penampilannya yang sederhana dengan baju putih murah dan celana jeans biasa pun ikut membangun narasi itu. Slogan "Jokowi adalah kita" di 2014 benar-benar menggema, seolah ia adalah representasi sempurna rakyat biasa yang terpinggirkan.

Bahkan tokoh seperti Anies Baswedan pernah menjadi juru bicaranya. Aktivis, pegiat demokrasi, hampir semua kelompok masyarakat sipil dulu jatuh hati pada sosok merakyat ini.

Namun begitu, perubahan drastis terjadi. Pemicu utamanya, menurut banyak pengamat, adalah konflik dengan PDIP partai yang mendampinginya selama 23 tahun dan kontroversi putusan MK yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka. Isu penundaan pemilu dan wacana tiga periode semakin memperkeruh suasana. Politik blusukan yang dulu heroik, kini terasa kehilangan makna di mata banyak mantan pendukung.

"Jokowi dikaitkan dengan sosok yang berubah secara total. Tak ada bedanya dengan politisi-politisi lain yang punya intensi soal kepentingan politik pribadi dan keluarga besarnya," ungkap Adi.

Ironinya kini kentara. Anies Baswedan, mantan juru bicara, justru berhadapan dengannya. Sebaliknya, Prabowo Subianto rival di Pilpres 2014 dan 2019 kini menjadi sekutu dan menyebut Jokowi sebagai "guru politik". Dinamika politik Indonesia memang berputar cepat.

"Hari ini dipuji, besok dihujat. Hari ini kawan, besok musuh. Hari ini musuh, besok menjadi kawan. Itulah politik Indonesia," kata Adi, menggambarkan situasi yang serba berubah.

Pengamat yang dikenal dengan tagar "Politik Santun" ini menilai fenomena ini lumrah dalam sistem presidensial multipartai ala Indonesia. Semua bisa berubah total dalam sekejap.

"Gampang memuji, gampang juga membenci. Gampang berkawan, tapi gampang juga bermusuhan. Makna politik di Indonesia itu biasa-biasa saja," tegasnya.

Inilah yang disebutnya jalan politik moderat, atau "politik santun-santun". Perjalanan 13 tahun sejak gorong-gorong itu menjadi cermin pahit: sebuah citra politik bisa bertransformasi secara dramatis, dari simbol kerakyatan yang disanjung, menjadi sasaran empuk kritik dari mereka yang dulu paling lantang membelanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar