Pandawaragroup Serukan: Stop Jadikan Perselingkuhan Sebagai Tontonan Publik!

- Minggu, 28 Desember 2025 | 08:40 WIB
Pandawaragroup Serukan: Stop Jadikan Perselingkuhan Sebagai Tontonan Publik!

Di tengah hiruk-pikuk berita selebritas yang mendominasi linimasa, sebuah suara tegas muncul dari akun Instagram @pandawaragroup. Lewat unggahan carousel, mereka menyuarakan keresahan yang mungkin juga kita rasakan: “Stop normalisasi kasih panggung kasus perselingkuhan!”. Ini bukan sekadar kritik biasa. Lebih dari itu, ini adalah ajakan kolektif untuk benar-benar mengubah cara kita mengonsumsi dan menciptakan konten di dunia digital.

Seruan itu ditujukan khususnya pada para publik figur, podcaster, dan kreator konten. Dalam postingannya, Pandawaragroup menulis dengan nada yang blak-blakan, “Dear teman-teman publik figur, podcaster dll… Yu stop membesar-besarkan dan memberi wadah untuk hal-hal seperti itu.”

Alasannya sederhana tapi mendasar. Urusan perselingkuhan, menurut mereka, adalah masalah privat yang “sangat tidak layak untuk dikonsumsi publik.” Intinya, energi dan waktu kita seharusnya dialihkan ke hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, baik untuk diri sendiri, agama, maupun negara.

Nah, kalau dipikir-pikir, seruan ini memang sangat relevan. Terutama dalam konteks etika bermedia sosial yang sering kali kebablasan. Banyak riset sudah membuktikan, sensasionalisme atas kehidupan pribadi artis punya dampak yang nggak main-main. Isu-isu publik yang krusial seperti pendidikan atau lingkungan jadi tenggelam dan terlupakan.

Dari sisi psikologis, efeknya juga mengkhawatirkan. Paparan berlebihan terhadap konflik hubungan orang lain bisa menormalisasi drama. Bahkan, bisa memicu kecemasan sosial, khususnya di kalangan anak muda yang masih rentan. Belum lagi soal batas privasi yang semakin kabur. Seolah-olah, karena seseorang itu figur publik, seluruh hidupnya layak jadi tontonan gratis.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Menanggapi ajakan Pandawaragroup, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita ambil.

Sebagai konsumen, kita harus lebih selektif. Jangan asal klik, apalagi menyebarkan konten gosip yang belum jelas kebenarannya. Pilih tontonan yang memberi nilai tambah.

Sebagai kreator, tanggung jawabnya lebih besar. Prioritaskan konten yang mendidik dan inspiratif. Konten yang bisa memajukan diskusi sehat, bukan cuma mengejar rating dengan sensasi.

Dan sebagai komunitas, kita perlu lebih apresiatif. Beri dukungan lebih pada konten-konten yang substantif. Kurangi engagement pada konten yang cuma mengandalkan kehebohan sesaat.

Pada akhirnya, seperti pesan yang disampaikan Pandawaragroup, mari kita “simpan energi dan waktu kalian untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.” Dengan lebih bijak memilih konten, kita bukan cuma menjaga kesehatan mental sendiri. Tapi juga ikut membangun ekosistem digital yang lebih beretika dan bermartabat untuk semua.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar