Pemerintah Australia baru-baru ini mengirimkan surat teguran keras kepada Roblox. Platform game sosial yang sangat digemari anak-anak itu mendapat peringatan menyusul banyaknya laporan tentang pendekatan dan rayuan predator terhadap pengguna muda di dalamnya.
Surat itu datang langsung dari Menteri Komunikasi, Anika Wells. Ia meminta pertemuan mendesak dengan pihak Roblox sambil menyuarakan keprihatinan mendalam. Yang jadi sorotan adalah maraknya "konten buatan pengguna yang ekstrem dan tidak senonoh", mulai dari materi seks eksplisit hingga konten yang mengarah pada bunuh diri.
Tapi rupanya, itu belum segalanya.
"Yang lebih mengkhawatirkan," tulis Wells dalam suratnya, "adalah laporan dan kekhawatiran yang terus berlanjut tentang anak-anak yang didekati dan dilecehkan oleh predator." Menurutnya, para pelaku ini secara aktif berusaha mengeksploitasi rasa ingin tahu dan kepolosan anak-anak.
Di sisi lain, Komisaris Keamanan Siber Australia juga sudah angkat bicara. Mereka memberitahu Roblox soal rencana untuk menguji implementasi komitmen keamanan yang sempat dijanjikan platform itu setahun lalu. Komitmen itu antara lain membuat akun pengguna di bawah 16 tahun tidak bersifat publik secara otomatis, plus menyediakan alat untuk mencegah orang dewasa menghubungi anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua.
Memang, Roblox disebutkan telah bekerja sama dengan Komisaris sepanjang 2024 dan 2025 untuk menyusun langkah keamanan tambahan. Namun begitu, masalahnya seperti tak kunjung usai.
"Meskipun demikian, masalah-masalah tersebut tampaknya masih berlanjut," tegas surat dari menteri tersebut. "Ini tidak dapat diterima dan masalah-masalah ini sangat mengkhawatirkan banyak orangtua di Australia."
Komisaris Keamanan Siber, Julie Inman Grant, mengonfirmasi langkahnya. Ia telah mengirim surat terpisah pekan lalu untuk memberi tahu Roblox bahwa protokol keamanan mereka akan mendapat pemantauan ekstra.
"Kami tetap sangat prihatin dengan laporan yang terus berlanjut mengenai eksploitasi anak-anak di layanan Roblox dan paparan materi berbahaya," ujar Julie.
Pemerintah bahkan sudah meminta Dewan Klasifikasi untuk meninjau ulang peringkat 'PG' (Parental Guidance) yang disandang Roblox saat ini. Apakah label itu masih sesuai dengan realita yang terjadi?
Ancaman Denda yang Tak Main-main
Menariknya, Roblox luput dari larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun yang baru diterapkan Australia. Padahal, aplikasi ini adalah yang paling populer di kalangan anak dan remaja Australia usia 4 hingga 18 tahun.
Namun, platform ini bukan berarti kebal hukum. Berdasarkan Undang-Undang Keamanan Online, Roblox bisa dihantam denda hingga A$49,5 juta oleh Komisioner Keamanan Online jika kedapatan melanggar.
Aturan baru yang fokus pada konten terbatas usia seperti pornografi dan konten menyakiti diri sendiri telah berlaku sejak 9 Maret. Dan aturan ini berlaku juga untuk Roblox. Tak cuma itu, layanan game online juga diwajibkan melarang dan mengambil tindakan tegas terhadap berbagi konten intim non-konsensual, pelecehan seksual, hingga pemerasan seksual.
Menanggapi tekanan, Roblox sebelumnya mengklaim telah memenuhi sejumlah komitmen. Mereka menyebut sudah mewajibkan verifikasi usia minimal 17 tahun untuk mengakses game-game tertentu. Bahkan, pada September lalu, perusahaan berencana memperluas kebijakan verifikasi usia itu ke semua pengguna yang memakai fitur komunikasi platform sebelum akhir tahun.
Tapi bagi pemerintah Australia, klaim-klaim itu tampaknya belum cukup. Surat peringatan ini adalah sinyal jelas bahwa mereka menuntut bukti nyata dan perlindungan yang lebih konkrit bagi pengguna mudanya.
Artikel Terkait
Pemerintah Pacu Industri Halal Jadi Strategi Nasional untuk Menangi Pasar Global
Korlantas Siapkan Operasi Ketupat 2026, Fokus pada Keamanan Menyeluruh
Polri Sita Aset Puluhan Miliar dari 16 Kasus Pencucian Uang Judi Online
Pemerintah Finalisasi Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan, Targetkan Operasional 2026