Istidraj: Ketika Kemudahan Dunia Justru Menjadi Jebakan

- Minggu, 28 Desember 2025 | 02:06 WIB
Istidraj: Ketika Kemudahan Dunia Justru Menjadi Jebakan

Pernah nggak sih, kita bertanya-tanya dalam hati: kok dunia ini rasanya nggak adil? Kita yang berusaha taat, eh malah dapat ujian bertubi-tubi. Sementara orang lain yang ibadahnya biasa-biasa saja, malah keliatan lancar jaya, doanya kayak dikabulkan lebih cepat. Rasanya bikin iri dan galau.

Namun begitu, dalam Islam, fenomena seperti ini nggak selalu berarti Allah meridhai. Bisa jadi, itu adalah istidraj. Apa itu? Istidraj itu semacam jebakan kenikmatan. Allah memberi kelapangan rezeki dan kemudahan duniawi justru kepada hamba yang lalai, sebagai ujian yang terselubung. Sayangnya, banyak yang terjebak. Mereka mengira kemudahan itu tanda sayang-Nya, padahal sebaliknya. Istidraj itu ibarat permen beracun manis di awal, tapi menyesatkan dan menumpulkan kesadaran.

Contohnya dalam keseharian gampang kita temui. Misalnya, seseorang yang bolong-bolong shalatnya, tapi karirnya malah melejit, usahanya sukses, hidupnya serba enak. Dia pun berpikir, “Ah, nggak shalatin juga nggak apa-apa, toh baik-baik aja.” Nah, kondisi kayak gini patut diwaspadai. Bisa jadi itu ujian dari Allah SWT, yang suatu saat kenikmatannya bisa dicabut secara tiba-tiba, tinggalkan penyesalan yang dalam.

Allah sudah mengingatkan soal ini dalam Al-Qur'an.

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

Artinya kurang lebih: Ketika mereka melupakan peringatan, Kami bukakan pintu segala kesenangan untuk mereka. Sampai akhirnya, saat mereka bergembira, Kami siksa mereka secara mendadak. Dan jadilah mereka putus asa.

Ayat itu jelas banget. Kelapangan rezeki dan keinginan yang terkabul bukan jaminan ridha Allah. Bisa jadi itu ujian, istidraj, supaya kita nggak kelepasan dan tetap ingat pada-Nya.

Reaksi orang pun beragam melihat realita ini. Ada yang bingung, bahkan mempertanyakan keadilan-Nya. Kok yang taat susah, yang lalai malah enak? Dari situ, timbulah iri dan kebiasaan membandingkan diri. Capek juga rasanya.

Ada juga yang lelah secara batin. Sudah berusaha taat beribadah, kok hasilnya nggak kelihatan? Hidup tetap aja berat.

Di sisi lain, sebagian orang mencoba memaknainya dengan berbeda. Mereka melihat ini sebagai ujian iman belaka. Percaya bahwa Allah Maha Tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya, meski kadang logika kita nggak nyampe.

Intinya, setiap orang punya ujian, waktu, dan takaran hidupnya sendiri-sendiri. Membandingkan nasib kita dengan orang lain, lalu menjadikannya patokan keadilan Allah, itu jelas menyesatkan. Allah Maha Tahu kemampuan dan kebutuhan kita, lebih dari kita sendiri.

Jadi gimana dong? Ya, kita harus tetap sabar, terus berikhtiar, dan belajar ikhlas. Mungkin Allah sedang menyiapkan yang terbaik di waktu yang tepat, dengan cara yang nggak kita duga. Berpikirlah positif. Hidup ini seperti roda, terus berputar. Nggak semua keinginan harus dikabulkan sekarang juga. Bayangkan jika semua permintaan kita dikabulkan instan, kita bisa lupa cara bersyukur dan lupa untuk tetap merendah dalam doa.


Zamzamil Karimah, mahasiswa Hukum Pidana Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar