Kolombia Beli 17 Jet Tempur Gripen Rp71,2 T: Tanggapan atas Ketegangan dengan AS

- Senin, 17 November 2025 | 08:25 WIB
Kolombia Beli 17 Jet Tempur Gripen Rp71,2 T: Tanggapan atas Ketegangan dengan AS
Kolombia Beli 17 Jet Tempur Gripen: Strategi Pertahanan dan Latar Belakang Konflik

Kolombia Amankan 17 Jet Tempur Gripen Senilai Rp71,2 Triliun

Pemerintah Kolombia secara resmi mengumumkan pembelian 17 unit jet tempur canggih Gripen dari produsen Swedia, Saab. Nilai kesepakatan pertahanan ini mencapai 4,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp71,2 triliun. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Kolombia, Gustavo Petro, melalui saluran media sosialnya.

Presiden Petro menegaskan bahwa akuisisi jet tempur Gripen ini berfungsi sebagai alat pencegah. Tujuannya adalah untuk menjaga perdamaian dan melindungi kedaulatan Kolombia dari potensi agresi yang dapat datang dari mana pun di tengah situasi geopolitik global yang dinilai semakin tidak menentu.

Latar Belakang Ketegangan Geopolitik

Keputusan pembelian pesawat tempur ini tidak terlepas dari memanasnya hubungan diplomatik antara Kolombia dan Amerika Serikat. Presiden Petro terlibat dalam pernyataan saling tuduh dengan pemimpin AS, Donald Trump. Petro menuding bahwa pengerahan militer AS di kawasan Karibia memiliki motif tersembunyi untuk menguasai sumber daya minyak Venezuela dan menggoyang stabilitas kawasan Amerika Latin.

Di sisi lain, Trump telah melayangkan berbagai tuduhan terhadap Petro dan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. Trump menuduh keduanya terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional, klaim yang secara tegas dibantah oleh kedua pemimpin negara tersebut. Sebagai bentuk tekanan, AS juga telah mencabut status Kolombia sebagai sekutu dalam perang melawan narkoba dan menghentikan bantuan keuangan untuk negara tersebut.

Operasi Militer AS dan Kritik dari Masyarakat Internasional

Ketegangan semakin memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Amerika Latin menyusul meningkatnya aktivitas militer AS. Amerika Serikat mengklaim telah melakukan sekitar 20 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terkait penyelundupan narkoba sejak bulan September. Operasi-operasi ini dilaporkan menewaskan sekitar 80 orang dan dilakukan di perairan internasional, termasuk kawasan Karibia dan Pasifik Timur.

Aksi unilateral AS ini menuai kritik tajam dari berbagai pemimpin Amerika Latin, pakar hukum internasional, serta kelompok pemerhati HAM. Mereka menilai serangan-serangan tersebut sebagai bentuk pembunuhan di luar hukum, mengingat para tersangka seharusnya diberikan proses pengadilan yang fair jika memang terbukti melakukan pelanggaran.

Dengan penguatan armada udaranya melalui jet tempur Gripen, Kolombia menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mandiri. Langkah strategis ini menjadi penanda pergeseran aliansi dan dinamika keamanan yang baru di kawasan Amerika Latin.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar