MURIANETWORK.COM - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong pemerintah untuk memperjuangkan perlakuan tarif khusus, bahkan hingga nol persen, untuk ekspor produk mebel dan kerajinan ke Amerika Serikat. Permintaan ini disampaikan menyusul penandatanganan kerja sama ekonomi baru antara Indonesia dan AS, yang memberikan pembebasan tarif untuk 1.819 pos komoditas lain, namun belum mencakup sektor mebel. Negeri Paman Sam sendiri merupakan pasar utama, menyerap lebih dari separuh ekspor mebel Indonesia.
Tekanan Tarif dan Harapan Pelaku Usaha
Industri mebel dan kerajinan kayu dalam negeri mulai merasakan tekanan signifikan sejak diberlakukannya penyesuaian tarif oleh pemerintahan AS pada 2025 lalu. Saat itu, tarif ekspor untuk produk mereka melonjak hingga di atas 25 persen, sebuah beban yang cukup memberatkan daya saing. Meskipun belum masuk dalam daftar komoditas yang dibebaskan tarif, pelaku usaha menyambut revisi terakhir yang menetapkan tarif menjadi 15 persen.
Ketua HIMKI Abdul Sobur melihat kebijakan terbaru ini sebagai angin segar. "Untuk produk mebel dan kerajinan yang sebelumnya menghadapi tarif lebih tinggi, kebijakan ini justru berpotensi memperbaiki daya saing, sepanjang implementasinya konsisten dan berlaku stabil dalam jangka menengah," jelasnya.
Pasar Ekspor yang Dominan
Permintaan untuk tarif khusus ini bukan tanpa alasan. Data dari HIMKI menunjukkan betapa vitalnya pasar Amerika bagi kedua sektor tersebut. Sepanjang 2024, total ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai USD 2,6 miliar. Dari angka tersebut, ekspor mebel menyumbang USD 1,93 miliar, dengan 54 persen di antaranya dikirim ke AS. Sementara itu, dari total ekspor kerajinan senilai USD 673,34 juta, sekitar 41,5 persen juga ditujukan ke negara yang sama. Fakta ini menggarisbawahi bahwa stabilitas akses pasar AS merupakan pondasi penting bagi keberlangsungan industri.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Pasokan LPG Aman Meski Selat Hormuz Tegang
Pemerintah Siapkan Implementasi B50 Mulai Juli 2026, Proyeksi Hemat Subsidi Rp48 Triliun
Groundbreaking Pabrik Melamin Pertama Indonesia Senilai Rp10,2 Triliun Digelar Pekan Depan di Gresik
Menko Airlangga: Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh 5,5%, Penerimaan Pajak Naik 14,3%