Contoh lain ia ambil dari peristiwa yang lebih segar dalam ingatan kita: tsunami Aceh 2004. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu, menurut Rizieq, juga tak ragu.
“Hari ini terjadi tsunami, saudara, malam itu juga diumumkan oleh Presiden SBY sebagai bencana nasional,” bebernya.
Keputusan itu membuka keran bantuan internasional. Bantuan mengalir deras dari berbagai penjuru dunia.
“Besoknya saudara, berton-ton bantuan datang dari semua negara. Selesai! Saya dengan kawan-kawan, 1300 laskar kita bawa dari Jakarta, saudara. Berangkat ke Aceh, ikut kerja, bantuan luber dari mana-mana.”
Nah, bandingkan dengan kondisi sekarang. Pemerintah, kata Rizieq, kerap menolak bantuan asing dengan dalih masih mampu menangani sendiri. Padahal di lapangan, ceritanya lain. Banyak korban yang masih kesulitan dapat logistik, air bersih, apalagi listrik.
“Tapi sekarang, saudara, giliran ada mau bantuan bilangnya, 'Nggak, kita masih mampu. Kita masih mampu.'”
Suaranya meninggi, penuh tanya.
“Masih mampu dari mana mampu? Kalau mampu jembatan sudah beres. Kalau mampu tuh mayat udah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Betul? (Betul!)”
Pertanyaan itu menggantung, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Artikel Terkait
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan
Bazar Rakyat Instruksi Presiden Prabowo Serbu Monas, Dihadiri Ratusan Ribu Warga