Rizieq Sindir Pemerintah: Utang Triliunan Tak Malu, Bantuan Asing Ditolak

- Jumat, 26 Desember 2025 | 15:50 WIB
Rizieq Sindir Pemerintah: Utang Triliunan Tak Malu, Bantuan Asing Ditolak

MURIANETWORK.COM – Kritik pedas kembali dilontarkan Habib Rizieq Shihab. Kali ini, sang imam besar Front Pembela Islam itu menyoroti sikap pemerintah yang dinilainya plin-plan dalam menangani musibah di Sumatera. Yang jadi sorotan adalah keengganan menerima bantuan dari luar negeri. Padahal, di saat bersamaan, pemerintah tak segan mengajukan utang besar-besaran ke negara lain. Sungguh sebuah ironi.

“Jadi sekali lagi saudara, bencana nasional nggak usah malu. Ngucapin bencana nasional malu, jangan. Kalau ngutang boleh malu. Betul? (Betul!)”

Suaranya lantang, diikuti sahutan riuh jamaah yang hadir dalam ceramahnya, Jumat (26/12) lalu.

“Ngutang triliun-triliunan nggak malu, nerima bantuan malu,” tambahnya.

Bagi Rizieq, sikap seperti ini cuma bikin bingung. Menetapkan status bencana nasional, menurutnya, bukanlah aib. Justru itu langkah krusial agar penanganan bisa lebih cepat dan maksimal. Standar ganda pemerintah inilah yang ia tentang.

“Insya Allah, kira-kira jelas nggak? (Jelas!) Jelas nggak? (Jelas!)” tanyanya sekali lagi, memastikan pesannya tersampaikan.

Ia lantas menengok ke belakang, ke masa Orde Baru. Tahun 1992, tsunami menerjang Nusa Tenggara Timur. Saat itu, respons pemerintah Soeharto sangat berbeda.

“Begitu terjadi tsunami, Presiden Soeharto mendapatkan berita langsung diumumkan bencana nasional. Selesai!” tuturnya.

Dampaknya, kata dia, pemulihan berjalan lancar. Tak ada keributan yang berlarut-larut.

“Hanya dalam sekian minggu, selesai. Yang rusak dibangun kembali, jalan dibangun kembali, jembatan dibangun kembali, saudara. Selesai! Nggak ada ribet-ribet.”

Contoh lain ia ambil dari peristiwa yang lebih segar dalam ingatan kita: tsunami Aceh 2004. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu, menurut Rizieq, juga tak ragu.

“Hari ini terjadi tsunami, saudara, malam itu juga diumumkan oleh Presiden SBY sebagai bencana nasional,” bebernya.

Keputusan itu membuka keran bantuan internasional. Bantuan mengalir deras dari berbagai penjuru dunia.

“Besoknya saudara, berton-ton bantuan datang dari semua negara. Selesai! Saya dengan kawan-kawan, 1300 laskar kita bawa dari Jakarta, saudara. Berangkat ke Aceh, ikut kerja, bantuan luber dari mana-mana.”

Nah, bandingkan dengan kondisi sekarang. Pemerintah, kata Rizieq, kerap menolak bantuan asing dengan dalih masih mampu menangani sendiri. Padahal di lapangan, ceritanya lain. Banyak korban yang masih kesulitan dapat logistik, air bersih, apalagi listrik.

“Tapi sekarang, saudara, giliran ada mau bantuan bilangnya, 'Nggak, kita masih mampu. Kita masih mampu.'”

Suaranya meninggi, penuh tanya.

“Masih mampu dari mana mampu? Kalau mampu jembatan sudah beres. Kalau mampu tuh mayat udah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Betul? (Betul!)”

Pertanyaan itu menggantung, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar