MURIANETWORK.COM - Pemerintah Indonesia memprioritaskan pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di wilayah Jakarta dan Jawa Tengah. Mega proyek ini diarahkan untuk mengatasi ancaman banjir rob dan penurunan tanah yang kian mengkhawatirkan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Kajian mendalam tengah dilakukan untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan proyek yang menelan anggaran hingga Rp123 triliun ini.
Fokus Pada Daerah Rawan Rob
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, Didit Herdiawan Ashaf, menjelaskan bahwa Teluk Jakarta dan sejumlah kawasan di Pantura Jawa Tengah menjadi titik utama perhatian. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kerentanan daerah-daerah tersebut terhadap bencana banjir rob yang kerap melanda.
"Pelaksanaan kegiatannya sebagai kegiatan awal dilakukan di daerah Teluk Jakarta dan wilayah Jawa Tengah. Yang contohnya misalkan di Semarang, di Pekalongan, dan di daerah-daerah Demak, Sayung, dan lain sebagainya itu menjadi prioritas yang memang betul-betul terdampak," jelasnya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Jakarta, Senin (9/2/2026).
Didit, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, menambahkan bahwa penelitian lanjutan terus digelar. Tujuannya tidak hanya untuk memaksimalkan mitigasi bencana, tetapi juga untuk menganalisis dampak lingkungan secara komprehensif dan memetakan urgensi pembangunan bagi masyarakat.
"Pendalaman tentang analisais mengenai dampak lingkungan dan urgensi-urgensi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat, dan ternyata kita sekarang ini yang kita hadapi hari ini, termasuk banjir rob, land subsidence, hilangnya pantai, dan lain sebagainya, itu bagian dari pelaksanaan kegiatan yang akan direncanakan untuk pembangunan," tuturnya.
Lebih Dari Sekadar Pembangunan Fisik
Menteri Koordinator Bidang IPK, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan bahwa proyek GSW bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik belaka. Cakupannya yang membentang ratusan kilometer dari Banten hingga Jawa Timur menuntut pendekatan yang holistik, mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
"Ini (proyek GSW) sebuah project yang sangat besar ya. Bicara melindungi Pantura Jawa dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Ratusan kilometer. Kami juga harus pastikan bukan hanya membangun infrastruktur fisiknya. Karena ini berkaitan dengan manusia, dengan masyarakat, dengan ekonomi yang ada di daerah," kata AHY.
Dia menilai, keberhasilan proyek ini juga diukur dari kemampuannya melindungi pusat-pusat industri dan lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup warga. Dengan demikian, GSW diharapkan tidak hanya menjadi benteng dari air laut, tetapi juga penjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Target Groundbreaking dan Tantangan Ke Depan
Berdasarkan kajian terkini, proyek GSW di Jakarta ditargetkan mencapai tahap groundbreaking atau peletakan batu pertama pada September 2026. Anggaran sebesar Rp123 triliun mencerminkan skala dan kompleksitas dari upaya rekayasa infrastruktur ini.
Langkah pemerintah ini menunjukkan respons terhadap tekanan lingkungan yang nyata di garis pantai utara Jawa. Meski demikian, implementasinya akan terus diawasi, mengingat dampak ekologis dan sosial yang mungkin timbul dari pembangunan struktur sebesar itu. Kehati-hatian dalam setiap tahap perencanaan menjadi kunci untuk memastikan proyek ini memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.
Artikel Terkait
Dokumen FBI Ungkap Dana Epstein untuk Pendukung Militer dan Pemukiman Israel
Jasa Marga Luncurkan Travoy, Aplikasi Asisten Pribadi Pengguna Tol dengan Data Real-Time
Direktur Dana Syariah Indonesia Janji Kembalikan 100 Persen Dana Lender di Hadapan Penyidik
Menkumham Soroti Royalti YouTube RI Cuma 0,7 Dolar, Jauh di Bawah Singapura