Dokumen FBI Ungkap Dana Epstein untuk Pendukung Militer dan Pemukiman Israel

- Selasa, 10 Februari 2026 | 04:30 WIB
Dokumen FBI Ungkap Dana Epstein untuk Pendukung Militer dan Pemukiman Israel

JAKARTA Dokumen internal FBI yang baru saja dibuka untuk publik mengungkap fakta mengejutkan. Ternyata, miliarder terpidana kasus seksual, Jeffrey Epstein, punya keterkaitan pendanaan dengan kelompok pendukung militer Israel, Friends of Israel Defense Forces (FIDF). Tak cuma itu, aliran dana juga mengalir ke Jewish National Fund (JNF), organisasi yang gencar membangun pemukiman Yahudi.

Analisis dari FBI itu jelas-jelas menunjukkan Epstein mendanai FIDF. Kelompok ini sendiri dikenal aktif menggalang dana untuk mendukung tentara dan veteran IDF yang masih bertugas. Di situs resminya, FIDF mengklaim fokus pada program-program yang meringankan beban finansial prajurit. Tujuannya agar mereka bisa sepenuhnya konsentrasi pada misi militer yang rumit.

“Kami mendanai program untuk tentara tempur yang bertujuan mengurangi tekanan keuangan, ketidakamanan ekonomi, atau gangguan, sehingga pikiran mereka dapat sepenuhnya fokus pada misi militer yang kompleks,” begitu bunyi pernyataan di situs mereka.

Organisasi itu bahkan punya program bernama “Mengadopsi Brigade”, yang memungkinkan donatur terhubung langsung dan memberi dukungan pada unit pilihan mereka.

Laporan dari Page Six, bagian dari New York Post, pada 2008 lalu sudah memberi sedikit petunjuk. Media itu menulis, Epstein pernah melakukan tur ke sebuah pangkalan militer Israel saat perayaan Paskah. Ia ditemani Benny Shabtai, yang saat itu menjabat sebagai ketua Friends of Israel. Pertemuan dengan sejumlah ilmuwan Israel juga disebutkan terjadi dalam kunjungan itu.

Nah, yang lebih pelik lagi, dokumen FBI seperti dilansir Middle East Eye menyebut Epstein ternyata pernah “dilatih sebagai mata-mata” di masa Ehud Barak menjadi perdana menteri Israel. Dari sinilah koneksinya makin dalam. Selain FIDF, dana Epstein juga mengalir ke Jewish National Fund (JNF).

JNF ini bukan organisasi kecil. Mereka adalah badan pembangunan pemukiman terbesar di wilayah Palestina yang diduduki. Visi jangka panjang mereka ambisius: membangun komunitas baru di gurun, mendongkrak populasi Israel utara, dan membawa ribuan orang ke Israel setiap tahun. Mereka mengklaim telah menyediakan infrastruktur untuk lebih dari seribu komunitas.

Cabang JNF di Inggris, yang pernah mencatatkan nama Tony Blair sebagai pelindung kehormatan, sendiri bukan tanpa kontroversi. Di masa lalu, mereka dikritik habis-habisan karena disebut menyumbang besar kepada “milisi terbesar Israel.”

Di sisi lain, jaringan Epstein memang terbilang sangat global dan nyaris tanpa batas. Ia diketahui punya hubungan dekat dengan banyak tokoh Israel, dan bahkan pernah menjamu miliarder Uni Emirat Arab, Sultan Ahmed bin Sulayem, di pulau pribadinya yang terkenal itu, Little Saint James. Pulau inilah yang kemudian terbukti menjadi markas operasi perdagangan seksnya.

Memo FBI pada Juli 2025 menyimpulkan, setelah meninjau berkas-berkas, ada lebih dari seribu wanita dan anak-anak dari seluruh dunia termasuk AS dan Inggris yang menjadi korban skema keji Epstein.

Keterkaitan dengan Ehud Barak ini yang terus mengemuka. Meski Barak belakangan berusaha meremehkan kedekatannya dengan Epstein dalam sebuah diskusi, fakta berbicara lain. Namanya muncul dalam ribuan hasil pencarian di berkas Epstein. Bahkan, jauh setelah Epstein pertama kali dihukum, tepatnya tahun 2015, Barak bermitra dengannya untuk mendanai sebuah startup keamanan bernama Reporty Homeland Security, yang kini berganti nama jadi Carbyne.

Dokumen lain yang dirilis memperlihatkan kedekatan lama keduanya. Epstein memberi nasihat kepada Barak soal perusahaan teknologi Palantir. Dia juga meminta Barak untuk mencarikan pekerjaan di sebuah perusahaan energi untuk Lord Peter Mandelson, mantan menteri Inggris. Mereka bahkan sempat membahas soal biaya konsultasi “besar-besaran” untuk Tony Blair.

Menanggapi heboh ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu angkat bicara. Melalui akun X-nya pada Jumat (6/2/2026), dia menulis keras.

“Hubungan Jeffrey Epstein yang sangat dekat dengan Ehud Barak tidak menunjukkan bahwa Epstein bekerja untuk Israel. Justru sebaliknya. Barak selama bertahun-tahun secara obsesif berusaha melemahkan demokrasi Israel dengan bekerja sama dengan kelompok kiri radikal anti-Zionis dalam upaya gagal untuk menggulingkan pemerintahan Israel yang terpilih. Obsesi pribadi Barak membuatnya terlibat dalam kegiatan terbuka maupun di balik layar untuk melemahkan pemerintahan Israel.”

Pernyataan Netanyahu itu seperti ingin memutus sama sekali kaitan antara skandal Epstein dengan negara Israel. Tapi, dokumen FBI yang sudah terhampar itu jelas meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar